HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di balik pementasan Musikal Perahu Kertas yang mengusung tema Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi”, tersimpan proses kreatif panjang dan penuh tantangan yang dijalani para pemainnya.
Adaptasi dari novel populer Perahu Kertas menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pemerannya. Selain harus memadukan akting, vokal, dan gerak, para pemain juga dituntut untuk membangun ulang karakter-karakter yang telah dikenal luas oleh pembaca dan penonton filmnya.
Alya Syahrani, pemeran Kugy, mengungkapkan bahwa proses awal yang ia jalani dimulai dengan riset terhadap karakter tersebut.
Ia membaca novel Perahu Kertas berulang kali untuk menemukan perjalanan emosi Kugy yang akan ia interpretasikan di atas panggung musikal.
“Riset dari novelnya, jadi aku baca bukunya berkali-kali untuk tahu karakter Kugy ini perjalanannya seperti apa sih, untuk aku interpretasi sendiri yang akan aku mainkan di musikal Perahu Kertas,” ujar Alya seperti informasi yang diterima Holopis.com dalam acara Konferensi Pers Musikal Perahu Kertas di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Musikal ini menjadi panggung musikal ketujuh Alya sejak terjun ke industri teater musikal pada 2012. Meski demikian, ia mengaku tetap merasakan tekanan tersendiri karena besarnya peran yang ia mainkan.
“Aku pertama kali juga dapat peran sebesar Kugy di musikal, aku sebenarnya grogi banget,” kata Alya.
Alya juga tidak menampik bahwa proses pendalaman karakter sempat membuatnya kebingungan di awal latihan. Namun, dukungan dari tim produksi dan sesama pemain membantunya perlahan menemukan karakter Kugy yang ingin ia hadirkan.
“Aku banyak bingungnya di awal, tapi makin ke sini, karena aku dapat banyak bantuan juga, dapat energi dari teman-teman, dapat banyak feedback dari our director dan external director dan semua tim yang terlibat. Aku merasa sangat di-support dan dibantu untuk pelan-pelan dapetin Kugy-nya seperti apa,” jelasnya.
Menurut Alya, perjalanan membangun karakter Kugy juga menjadi proses refleksi personal. Ia merasa menemukan kesamaan antara perjalanan karakter tersebut dengan dirinya sendiri.
“Menurut aku cukup menarik sih karena selain aku juga menemukan Kugy, aku juga merasa jadi refleksi ke diri aku sendiri. Kayak Kugy menjalankan perjalanan karakternya untuk menemukan adaptasi bukunya, dan aku pun jadi belajar dari Kugy,” ungkap Alya.
Sementara itu, Dewara Zaqqi yang memerankan Keenan mengungkapkan bahwa proses pendalaman karakternya dimulai dari pendekatan fisik hingga pemahaman emosi. Ia menilai, secara personal, dirinya perlu benar-benar “masuk” ke dalam tubuh karakter yang dimainkan.
“Kalau dari aku adalah tipe orang yang bisa memainkan karakter, kalau aku secara fisik harus bisa juga memainkan aku di karakter itu,” kata Dewara.
Salah satu proses yang ia jalani adalah mengubah penampilan fisik, termasuk memanjangkan rambut dan mengatur bentuk tubuh.
“Jadi salah satu prosesnya yang bisa aku bilang adalah dengan aku panjangin rambut, itu salah satu proses aku. Aku ngurusin badan aku, dari sebelumnya nggak sekurus ini,” ujarnya.
Selain perubahan fisik, Dewara juga mengaku membaca novel Perahu Kertas berulang kali untuk memahami karakter Keenan secara lebih mendalam.
“Terus mungkin yang bikin susah adalah aku baca novel. Untuk menambahkan, aku baca novel juga berulang-ulang karena aku benar-benar pengen tahu Keenan ini seperti apa,” kata Dewara.
Namun, tantangan terbesar justru muncul ketika ia menemukan banyak kesamaan antara dirinya dan karakter Keenan, terutama dalam situasi emosional.
“Dari baca novelnya dengan interpretasi aku sendiri, yang membuat susah itu ternyata adalah perbedaan aku dan Keenan. Sebenarnya situasinya mirip,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan cara mengekspresikan emosi menjadi tantangan tersendiri dalam proses aktingnya.
“Aku sama Keenan situasinya mirip, tapi yang membuat beda adalah kalau Zaqqi, kalau dia marah, make joke about it. Sementara Keenan itu lebih nutup ke dalam. Jadi itu yang bikin susah, kayak aku mau lepas gitu,” lanjutnya.
Meski demikian, dukungan dari sesama pemain dan tim kreatif membantunya menemukan versi Keenan yang tepat untuk panggung musikal.
“Tapi karena adanya bantuan juga dari cast-cast lain, dari directors, jadi lebih bisa menemukan Keenan itu seperti apa,” ujar Dewara.

