Alissa Wahid: Pelayanan Haji Harus Berempati pada Lansia dan Perempuan

Terutama bagi jemaah lansia, bisa jadi ini adalah perjalanan terakhir mereka. Karena itu, mari kita berikan pelayanan yang terbaik.

50 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menunaikan ibadah haji, menurut aktivis perempuan dan tokoh moderasi beragama Alissa Wahid, merupakan momen spiritual paling penting dalam kehidupan seorang muslim. Karena itu, kualitas pelayanan menjadi faktor krusial, terutama bagi jemaah haji lanjut usia dan jemaah perempuan yang memiliki kebutuhan khusus.

“Ibadah haji adalah puncak dari kehidupan setiap muslim. Terutama bagi jemaah lansia, bisa jadi ini adalah perjalanan terakhir mereka. Karena itu, mari kita berikan pelayanan yang terbaik,” ujar Alissa saat memberikan pembekalan kepada peserta Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Diklat PPIH) Arab Saudi Tahun 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (20/1/2026).

- Advertisement -Hosting Terbaik

Pemilik nama lengkap Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid tersebut menilai, bahwa tantangan dalam melayani jemaah lansia tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi fisik. Pendekatan yang tepat, pemahaman karakter, serta kesabaran petugas justru menjadi kunci utama. Di sisi lain, petugas juga dituntut menguasai teknologi informasi untuk menunjang pelayanan.

“Teknologi informasi itu penting, tapi jangan dipaksakan kepada jemaah lansia. Daya tangkap mereka berbeda. Justru petugaslah yang harus menguasai teknologi itu untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi para lansia,” jelasnya.

- Advertisement -

Alissa menegaskan bahwa berbagai aplikasi dan sistem digital seharusnya berfungsi sebagai alat bantu kerja petugas, bukan menjadi beban tambahan bagi jemaah lanjut usia.

Selain isu lansia, Alissa juga menyoroti pelayanan bagi jemaah haji perempuan. Ia mengapresiasi peningkatan jumlah petugas perempuan yang kini mencapai sekitar 30 persen dari total petugas haji.

“Saya senang sekali tahun ini petugas perempuan bertambah. Pada tahun 2022, jumlah pembimbing dan petugas perempuan masih sangat sedikit, padahal kebutuhan jemaah perempuan itu berbeda dengan laki-laki,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya kesiapan fasilitas yang ramah perempuan, mulai dari akomodasi hingga sanitasi. Alissa juga berbagi pengalamannya saat terlibat dalam penyelenggaraan haji 2022, di mana kondisi di lapangan memaksa adanya improvisasi kebijakan, termasuk pengaturan waktu dan penggunaan kamar mandi laki-laki oleh jemaah perempuan akibat keterbatasan fasilitas.

“Kebijakan-kebijakan spontan di lapangan itu seharusnya direspons secara sistematis, agar ke depan tidak lagi improvisasi, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem,” tuturnya.

Mengakhiri pembekalannya, Alissa mengingatkan bahwa tugas sebagai petugas haji merupakan amanah besar yang menuntut kesiapan mental dan ketulusan dalam melayani.

“Petugas haji harus menyiapkan diri, meluruskan niat, dan hadir sepenuh hati untuk melayani. Petugas adalah sumber rasa aman dan rasa nyaman bagi jemaah,” katanya.

Ia berharap, dengan pendekatan yang lebih empatik dan sistem pelayanan yang semakin ramah, pelaksanaan ibadah haji—khususnya bagi jemaah lansia dan perempuan—dapat berlangsung lebih lancar, khusyuk, dan bermakna.

“Ketika jemaah merasa aman dan nyaman, di situlah pelayanan haji benar-benar bernilai ibadah,” pungkas Alissa.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
50 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis