Rumah Walikota Madiun Dijaga Satpol PP Usai OTT, Warga “Ngrasani” di Warung


Oleh : Bambang Tjuk Winarno

HOLOPIS.COM, MADIUN – Rumah pribadi Walikota Madiun ter-OTT KPK, Maidi, di Jl. Merpati, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, nampak sepi. Hanya beberapa anggota Satpol PP nampak berjaga di tempat penjagaan depan rumah mewah itu.

Hampir tidak terlihat orang yang hilir mudik, keluar masuk rumah, yang mencerminkan sikap gopoh gapah dengan adanya peristiwa tangkap tangan KPK itu.

Dua unit mobil warna putih, bunga-bunga yang memenuhi teras depan, lampu hias klasik dan penghias rumah lainnya seakan menyatakan bela sungkawa atas tertangkapnya tuan rumah.

Sementara masyarakat setempat yang duduk mengelompok di warung-warung setiap sisi ruas jalan, terlibat ngrasani [bahasa Jawa yang artinya membicarakan keburukan atau aib orang lain] dengan topik terhangat tertangkapnya Walikota Maidi. Secara umum, psikologi warga tidak mempedulikan tindakan KPK yang menangkap walikotanya itu.

Malahan, salah seorang warga mempertontonkan aplikasi video pada selulernya, yang menunjukkan montage gambar Maidi dengan narasi: "Ubur-ubur pecel lele, aku wis kecekel le...". Atas insiden itu, tidak ada semangat pembelaan dari warga dalam bentuk argumentasi atau pun lainnya.

Warga lain menimpali, lolosnya Maidi di periode pertama yang tidak terjamah isu negatif dipandangnya sebagai hal biasa sebagai 'promosi'. Biasanya, menurut warga itu, 'permainan' yang sesungguhnya baru dimulai pada babak akhir itulah. "Disimpan ditempat yang bagaimana pun amannya, bau busuk bangkai itu akan tercium juga," sindir warga lain.

Dia pun lantas mengulik intelektual anak laki-laki Maidi yang sekarang, katanya, menjadi PNS di Pemkab Madiun.

"Anaknya Maidi itu kan teman sekolah keponakan saya dulunya. Kalau dia pintar di atas rata-rata, mestinya kan disekolahkan setinggi langit. Orang biayanya juga tersedia. Iya kan. Tapi kepintarannya pas-pasan. Jadi ya kerja PNS saja cukup," nilai warga itu.

Warga tersebut menduga, tertangkapnya Maidi kemungkinan berlangsung di rumah dinas atau di kantornya. Sebab kalau di rumah pribadi pasti diketahui warga setempat. Dia katakan, dalam kesehariannya Maidi dan keluarganya menempati rumah pribadinya.

"Setiap hari berangkat dan pulang kerja dari rumah itu. Saya dan warga sini kan tahu itu. Kalau rumah dinas paling-paling untuk mampir," tutur warga.

Sementara Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menjawab pertanyaan tertulis koresponden, Senin malam (19/01/2026), menyatakan pihaknya juga menangkap pihak swasta, selain Walikota Madiun, Maidi. Namun dia tidak merinci berapa banyak pihak swasta dan PNS yang terjaring OTT tersebut.

"Betul, ada juga dari pihak swasta," ungkap Budi tidak menjelaskan siapa pihak swasta itu, dan berapa jumlahnya. Kepala Dinas PU setempat, Thoriq Megah, yang berusaha dimintai komentarnya juga belum merespon.

Tampilan Utama