HOLOPIS.COM, JAKARTA — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah menyusun strategi untuk menjaga dan menarik arus investasi ke Indonesia di tengah meningkatnya eskalasi konflik geopolitik global.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan konflik geopolitik seperti yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memang berdampak pada investasi global.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah dan Danantara memilih fokus pada faktor-faktor domestik yang berada dalam kendali nasional.
“Kalau ditanya apakah ada dampaknya ya pastinya ada lah ke investasi. Misalnya, US menyerang Venezuela, kan di luar kontrol kita. Tapi yang di dalam kontrol kita itu yang coba kita selalu perbaiki. Terutama dari segi regulasi dan juga kebijakan (dalam negeri) supaya menjadi environment friendly untuk investasi,” ujarnya beberapa waktu lalu, dikutip Holopis.com, Minggu (18/1/2026).
Rosan menjelaskan, perbaikan regulasi dan kebijakan menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan investor asing. Pemerintah, kata dia, juga berupaya memperkecil ruang ketidakpastian dalam setiap keputusan penanaman modal, karena faktor tersebut kerap menjadi pertimbangan krusial bagi investor global.
Investor, lanjut Rosan, pada dasarnya memahami adanya risiko dalam berinvestasi. Namun, tingkat ketidakpastian yang tinggi dinilai sulit diukur dan menyulitkan mitigasi risiko.
“Pada saat mereka investasi mereka tau kok resiko-resikonya apa saja yang harus diperlukan. Tapi yang mereka tidak suka apabila ketidakpastiannya itu tinggi. Itu susah diukur oleh mereka dari segi mitigasi resikonya,” tutur dia.
Di sisi lain, Danantara juga mencermati ketatnya persaingan antarnegara dalam menarik investasi asing. Indonesia saat ini bersaing langsung dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, termasuk dalam perebutan investasi di sektor strategis seperti data center.
Meski kompetisi semakin ketat, Rosan menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang sulit diabaikan investor.
Beberapa di antaranya adalah harga listrik yang relatif lebih kompetitif, bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar, serta stabilitas nasional yang tetap terjaga di tengah dinamika global.
“Stabilitas di negara kita juga sangat-sangat bagus, sangat-sangat terjaga. Jadi ya itu semua yang kita tidak boleh terlena tapi terus kita tingkatkan,” tutur dia.


