Bali Zoo Berhenti Tawarkan Gajah Tunggang, Ternyata Ini Alasannya
HOLOPIS.COM, DENPASAR – Wajah pariwisata berbasis satwa di Pulau Dewata resmi bersalin rupa. Mulai awal tahun 2026, pemandangan turis yang duduk di atas punggung gajah perlahan mulai menghilang dari cakrawala destinasi Bali. Perubahan besar ini bukan sekadar tren, melainkan mandat tegas dari "langit" kementerian.
Melalui Surat Edaran (SE) Dirjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2025, Kementerian Kehutanan resmi mengetuk palu Peragaan gajah tunggang di lembaga konservasi harus dihentikan. Langkah ini menjadi babak baru bagi 83 ekor gajah Sumatera yang saat ini "bermukim" di lima lembaga konservasi di Bali.
Transisi ini memicu dinamika menarik di lapangan. Bali Zoo (CV. Bali Harmoni) tampil sebagai "murid teladan" dengan resmi memensiunkan aktivitas gajah tunggang per 1 Januari 2026. Inisiatif ini mendapat tepuk tangan virtual dari Balai KSDA Bali sebagai bentuk kepatuhan terhadap etika kesejahteraan satwa (animal welfare).
Namun, tidak semua berjalan mulus. Di sisi lain hutan wisata, Mason Elephant Park and Lodge (PT. Wisatareksa Gajah Perdana) justru harus menerima kado pahit berupa Surat Peringatan Pertama (SP I) yang diterbitkan Dirjen KSDAE pada 13 Januari kemarin.
"Kementerian Kehutanan akan mengambil sikap tegas. Pilihannya hanya dua: patuhi aturan atau hadapi pencabutan izin," tegas Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko.
Balai KSDA Bali mendorong para pengelola untuk memutar otak dan melahirkan konsep wisata tematik yang inovatif. Alih-alih menjadikan gajah sebagai "kendaraan", wisatawan kini diarahkan untuk berinteraksi secara lebih edukatif dan etis.
Misalnya seperti mengamati perilaku alami gajah, sesi edukasi pakan, hingga pengalaman merawat tanpa harus membebani fisik sang raksasa lembut tersebut.
"Kami mendorong penyusunan roadmap transformasi wisata gajah yang lebih edukatif. Ini adalah tentang mengubah perspektif; dari mengeksploitasi menjadi mengapresiasi," tambah Ratna.
Bagi para pelancong modern yang semakin sadar akan isu lingkungan (eco-conscious), kebijakan ini adalah kabar gembira. Standar kesejahteraan satwa kini menjadi nilai jual utama pariwisata Bali di mata dunia.
Dengan berakhirnya era gajah tunggang, Bali sedang mengirimkan pesan kuat ke komunitas global: Bahwa di pulau ini, kebahagiaan manusia tidak boleh dibangun di atas ketidaknyamanan satwa.