HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyampaikan sikap tegas terkait meningkatnya tekanan geopolitik yang dihadapi negaranya, terutama menyangkut isu Greenland. Frederiksen menilai tekanan tersebut datang secara tidak pantas, meski berasal dari negara yang selama ini dikenal sebagai sahabat dekat.
“Bukan hal yang mudah untuk membela diri dari tekanan yang tak pantas dari sahabat dekat kita yang sudah lama. Tapi hal yang paling sulit adalah apa yang ada di depan,” ujar Frederiksen, dikutip Holopis.com, Sabtu (17/1).
Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak semata-mata menyangkut Greenland atau Kerajaan Denmark, melainkan prinsip dasar dalam hubungan internasional yang tidak boleh dilanggar.
“Ini bukan hanya tentang Greenland dan Kerajaan (Denmark), ini tentang tidak bisa mengubah batasan dengan paksa, tidak bisa membeli orang lain, dan ini tentang negara-negara kecil yang merasa takut dengan negara-negara besar,” tegasnya.
Frederiksen menambahkan, sikap Denmark disampaikan bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan sebagai bagian dari suara kolektif negara-negara yang menjunjung kedaulatan dan hukum internasional.
“Ini kenapa kami berbicara. Ini kenapa banyak negara sahabat melakukan hal yang sama. Di negara-negara Nordik, negara-negara Eropa, dan seluruh dunia,” lanjut Frederiksen.
Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan global terhadap wacana pengambilalihan Greenland oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyebut wilayah itu penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat.
Gagasan tersebut telah ditolak secara tegas oleh pemerintah Greenland dan Denmark, yang menegaskan bahwa kedaulatan dan batas negara tidak dapat dinegosiasikan.


