HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto tengah mendorong upaya perluasan beasiswa dan penguatan pendidikan tinggi nasional.
Hal ini disampaikan Pras karena Presiden Prabowo Subianto telah memberikan sejumlah arahan strategis untuk memperkuat pendidikan tinggi nasional dalam Taklimat Presiden RI bersama Rektor dan Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri Tahun 2026 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis 15 Januari 2026 lalu.
“Bapak Presiden memberikan arahan kepada kami, terutama Mendiktisaintek dan kami sebagai Mensesneg untuk mencoba menghitung ulang, memformulakan ulang bagaimana memperbesar sebanyak-banyaknya penerima beasiswa,” kata Pras dalam keterangan persnya yang dikutip Holopis.com, Sabtu (17/1/2026).
Diketahui, taklimat yang diselenggarakan di Istana Negara tersebut menyoroti perluasan akses beasiswa, penguatan sains dan teknologi, serta pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan nasional.
Kini Mensesneg bersama Mendiktisaintek tengah memformulasikan ulang kebijakan untuk memperbesar jumlah penerima beasiswa secara signifikan dari total 9,9 juta mahasiswa saat ini.
Selain itu, Pras juga menyebut bahwa Presiden Prabowo telah mengarahkan agar alokasi beasiswa LPDP lebih difokuskan pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) hingga di atas 80 persen sebagai langkah percepatan penguasaan-penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Sudah ada beberapa kebijakan-kebijakan untuk program studi, program studi kedokteran untuk diperbesar dari sisi penerimaan jumlah mahasiswanya, maupun yang menuju ke dokter spesialis,” tuturnya.
Lebih lanjut, Mensesneg menjelaskan bahwa Presiden menaruh perhatian khusus pada kekurangan tenaga dokter dan dokter spesialis. Pemerintah bahkan tengah menyiapkan dua langkah utama, yakni memperbesar daya tampung mahasiswa kedokteran dan dokter spesialis pada program studi yang ada, serta merencanakan pembukaan fakultas kedokteran umum baru di berbagai titik yang tengah diidentifikasi.
Langkah ini turut mencakup penguatan pendidikan dokter gigi, farmasi, serta teknologi kesehatan guna menjawab perkembangan peralatan medis berbasis teknologi.
“Kita harus memberanikan diri untuk membuat fakultas baru untuk kedokteran umum, kemudian kita juga kekurangan dokter gigi, kita juga harus kuar dalam hal farmasi dan dalam teknologi kesehatan,” pungkas Prasetyo Hadi.


