HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), Novel Bamukmin, menegaskan bahwa TPUA telah mengambil jarak dari pusaran konflik politik antara PDI Perjuangan, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), dan kelompok yang disebutnya beririsan dengan Anies Baswedan. Sikap tersebut, menurut Novel, merupakan bagian dari upaya mengembalikan TPUA ke garis perjuangan awal yang berlandaskan spirit 212.
Novel menilai kegaduhan politik yang kembali mencuat, termasuk isu dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi, tidak memberikan manfaat nyata bagi rakyat. Ia menyebut isu tersebut justru mengganggu ketenangan publik di tengah fokus bangsa pada pembangunan dan pemberantasan korupsi.
Dalam keterangannya, Novel menyatakan bahwa sejak awal TPUA memang lahir dalam posisi berseberangan dengan PDIP dan pemerintahan Jokowi. Hal itu, kata dia, tidak terlepas dari sikap politik PDIP yang dinilai berseberangan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan ulama dan aktivis.
“TPUA yaitu Tim Pembela Ulama dan Aktivis dibentuk untuk membela para ulama dan aktivis dari jerat Kriminalisasi pemerintahan Jokowi sebagai petugas partai PDIP bahkan PDIP dengan angkuhnya menjadi inisiator menghantam Pancasila Untuk dieksekusi lewat RUU HIP,” tulis Novel dalam rilisnya yang diterima Holopis.com, Jumat (16/1/2026).
Ia juga menyinggung gugatan ijazah Presiden Jokowi yang pernah dilayangkan Eggi Sudjana sekitar empat tahun lalu. Gugatan tersebut, menurut Novel, tidak bisa dilepaskan dari sikap politik gerakan 212 yang sejak awal berhadap-hadapan dengan Jokowi dan PDIP.
Pasca Pilpres 2024 dan terpilihnya Prabowo Subianto sebagai Presiden RI ke-8 dengan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden, Novel menilai peta konflik politik berubah. Ia menyebut terjadi pertarungan terbuka antara kubu Jokowi dan PDIP, yang menurutnya tidak perlu melibatkan TPUA.
Novel mengaku telah lama menyampaikan keberatannya jika TPUA ditarik ke dalam konflik antara PDIP dan kubu Anies Baswedan. Dalam rilisnya, ia bahkan menyebut konflik tersebut sebagai pertarungan sesama kelompok yang sama-sama bermasalah.
“cukup dengan menonton saja ambil tiker minum kopi tonton cebong dengan cebong perang , Zolim dengan zolim lagi perang,” ujarnya.
Menurut Novel, keterlibatan TPUA dalam konflik tersebut justru berisiko merugikan perjuangan umat. Ia menilai siapa pun yang diuntungkan dari kasus hukum Jokowi, baik PDIP maupun kubu lainnya, tidak akan membawa manfaat bagi rakyat.
Ia kemudian menyoroti langkah Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis yang bertemu Presiden Jokowi di Solo. Pertemuan tersebut, kata Novel, bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk menyampaikan nasihat sekaligus melepaskan TPUA dari kepentingan politik tertentu.
“Akhirnya pertemuan Bang Eggi Sudjana yang disertai Bang Damai Hari Lubis di Solo untuk bertemu dengan Jokowi tanpa minta maaf malah bisa menasehati Jokowi dan keinginan untuk bisa melepaskan Diri dari Jokowi dan PDIP akhirnya membuahkan hasil yaitu dengan terbitnya SP3,” tulis Novel.
Novel menilai terbitnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) sebagai hasil dari kewenangan penyidik yang didorong oleh semangat restorative justice. Ia menyebut langkah tersebut sebagai keputusan strategis untuk menyelamatkan TPUA dari bayang-bayang kepentingan politik PDIP maupun Anies Baswedan.
Ia juga menyinggung adanya relasi politik antara sejumlah tokoh PDIP dengan pihak-pihak yang sebelumnya disebut berada di lingkar TPUA. Menurut Novel, kondisi itu semakin menguatkan alasan bagi TPUA untuk menarik diri dan menjaga independensi gerakan.
“Jadi jelas Bang Eggi Sudjana dan Bang Damai Hari Lubis telah menyelamatkan TPUA sebagai jongos PDIP dan Anies Baswedan dan kembali bersama rakyat yang sesungguhnya,” tandasnya.
Di akhir rilisnya, Novel menyampaikan apresiasi kepada Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Ia menegaskan TPUA kini kembali pada garis perjuangan awal bersama spirit 212.
“Terima kasih Bang Eggi Sudjana dan Bang Damai Hari Lubis menyelamatkan TPUA dan membersihkan dari oknum oknum jongos PDIP dan Anies Baswedan untuk kembali kepada khitoh semula bersama spirit 212 sejati,” pungkas Novel Bamukmin.

