HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik kian terasa setelah kontingen militer kecil dari Prancis tiba di ibu kota Greenland, Nuuk. Kehadiran pasukan ini menjadi bagian dari misi pengintaian bersama sejumlah negara Eropa di tengah desakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang terus mengklaim Greenland sebagai kepentingan strategis AS.
Kedatangan pasukan Prancis tersebut merupakan bagian dari pengerahan terbatas yang juga melibatkan Jerman, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, dan Inggris. Meski jumlahnya hanya puluhan personel, langkah ini dipandang sarat makna politik, terutama karena Greenland merupakan wilayah semi-otonom Denmark sekaligus bagian penting dari sistem pertahanan NATO di Arktik.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut pengerahan awal itu akan diperkuat dalam waktu dekat.
“Kontingen awal ini akan segera diperkuat dengan aset darat, udara, dan laut,” kata Macron, dikutip Holopis.com, Juma’at (16/1).
Diplomat senior Prancis, Olivier Poivre d’Arvor, menilai misi tersebut sebagai sinyal politik yang tegas kepada Washington.
“Ini adalah latihan pertama. Kami akan menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa NATO hadir,” ujarnya.
Menurut Poivre d’Arvor, tahap awal pengerahan Prancis hanya melibatkan 15 personel. Langkah ini dilakukan hanya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Denmark dan Greenland terbang ke Washington untuk bertemu Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu.
Usai pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen mengakui pembicaraan berlangsung konstruktif, namun menyebut masih ada perbedaan mendasar antara kedua pihak. Ia juga secara terbuka mengkritik ambisi Trump untuk membeli Greenland. Di sisi lain, Trump kembali menegaskan klaimnya atas wilayah Arktik tersebut.
“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval. Meski tidak secara tegas menyingkirkan opsi penggunaan kekuatan, Trump menyebut masih ada peluang kesepakatan dengan Denmark.
“Masalahnya, Denmark tidak bisa berbuat apa-apa jika Rusia atau China ingin menduduki Greenland, sementara kami bisa melakukan segalanya. Itu sudah terlihat minggu lalu di Venezuela,” lanjut Trump.
Gedung Putih menegaskan bahwa pengerahan pasukan Eropa tidak akan mengubah sikap Trump. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan langkah tersebut tidak memengaruhi keputusan presiden.
“Langkah itu juga tidak memengaruhi tujuannya untuk mengakuisisi Greenland sama sekali,” katanya.
Dari Eropa Timur, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk memperingatkan risiko politik besar jika AS mengambil langkah militer.
“Konflik atau upaya aneksasi wilayah negara anggota NATO oleh sesama anggota NATO akan menjadi akhir dari dunia seperti yang kita kenal, yang selama bertahun-tahun menjamin keamanan kita,” ujarnya.
Sementara itu, Rusia menyatakan keprihatinan serius. Kedutaan Rusia di Belgia menuding NATO membangun kehadiran militer di Arktik dengan dalih ancaman palsu dari Moskow dan Beijing.
Secara teknis, pengerahan Eropa ini merupakan bagian dari latihan gabungan pimpinan Denmark bertajuk Operation Arctic Endurance. Meski bersifat simbolis, kehadiran pasukan tersebut menunjukkan bahwa sekutu Eropa juga memiliki kepentingan langsung dalam keamanan Arktik dan Atlantik Utara.
Finlandia mengirim dua perwira penghubung militer untuk misi pencarian fakta, sementara Jerman mengerahkan 13 prajurit menggunakan pesawat angkut A400M yang dijadwalkan hanya berada di Greenland hingga Sabtu. Swedia, Norwegia, Inggris, dan Belanda turut mengirimkan perwira militer ke Nuuk.
Pejabat pertahanan Denmark menyatakan peningkatan kehadiran militer ini dilakukan atas kesepakatan dengan pemerintah Greenland untuk memperkuat jejak NATO di kawasan Arktik demi keamanan Eropa dan transatlantik. Macron menegaskan bahwa Eropa memiliki tanggung jawab khusus terhadap Greenland.
“Wilayah ini milik Uni Eropa dan juga salah satu sekutu NATO kami,” katanya.
Amerika Serikat sendiri telah memiliki pangkalan militer di Greenland dengan sekitar 150 personel. Namun, langkah Denmark dan sekutu Eropanya dipandang sebagai pesan jelas bahwa keamanan Arktik bukan hanya kepentingan Washington semata.


