HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nama aktris Aurelie Moeremans saat ini menjadi pembicaraan hangat setelah menulis buku berjudul Broken Strings. Dalam buku tersebut, Aurelie mengaku menjadi korban child grooming yang dilakukan seorang pria bernama “Bobby”. Meski nama pelaku disamarkan, warganet mengaitkannya dengan hubungan lamanya bersama Roby Tremonti, yang kemudian memicu klarifikasi dari pihak Roby disertai luapan emosi di media sosial.
Seiring dengan ramainya perbincangan itu, sebuah video lama wawancara Aurelie kembali viral. Dalam video tersebut, Aurelie mengungkapkan pengalaman pahit yang ia alami, termasuk pernikahan yang disebutnya berlangsung dalam kondisi penuh tekanan dan tanpa kehadiran orang-orang terdekatnya.
“Itu juga ngerasa sebenarnya, soalnya nggak ada orang tua aku. Aku juga dipaksa kan, maksudnya, nggak dipaksa banget sih cuma kayak dikekang, diancam gitu kan. Itu juga bisa dibilang nggak sah gitu,” kata Aurelie, dikutip Holopis.com, Kamis (16/1).
Ia kemudian menjelaskan bahwa seluruh tamu yang hadir dalam pernikahan tersebut berasal dari pihak Roby, sementara dirinya sama sekali tidak didampingi keluarga maupun teman.
“Yang hadir itu cuma keluarga Roby doang, nggak ada teman-teman aku, benar-benar cuma keluarga dia aja, dan aku baru kenal di situ juga, kayak wow ini orang asing semua nggak enak banget,” lanjutnya.
Dalam lanjutan pengakuannya, Aurelie membeberkan dugaan pola ancaman dan manipulasi yang ia alami sejak masih di bawah umur. Ia menyebut pelaku kerap mengintimidasi dirinya dengan ancaman penyebaran sesuatu yang membuatnya takut.
“Dia kayak seenaknya ngancem gini, kayak kalau kamu gini aku sebarin lo. Yaudah aku jadi takut kan,” ujar Aurelie.
Aurelie juga mengaku baru menyadari bahwa dirinya telah menjadi target sejak usia remaja, hingga akhirnya dinikahkan saat berusia 18 tahun.
“Jadi dia nunggu aku dari umur 16 sampai 18 buat bisa nikahin aku, dan aku nggak tahu itu. Jadi aku 18 tahun, disuruh ketemu sama dia, kita ketemu di Mall Semanggi, dan ternyata dia bawa pengacara dua. Aku bingung kan, ini buat apa pengacara, oh buat nikah. Aku belum mau aku bilang. Terus dia kayak marah-marah gitu, dia kayak ngancem-ngancem gitu.”
Ia menuturkan bahwa upaya pelaporan sempat ingin dilakukan oleh orang tuanya, namun tidak pernah terealisasi karena situasi yang disebutnya penuh tekanan.
“Aku belum pernah laporin dia ke mana-mana. Dulu orang tua aku pernah mau laporin dia ke KPAI, Komnas Anak, Kak Seto, tapi aku nya disuruh ngomong gini-gini sama Roby, jadi Roby nya nggak salah di mata mereka, gara-gara aku belain dia.”
Lebih jauh, Aurelie menggambarkan perubahan sikap pelaku yang semula terlihat baik, namun kemudian menjadi kasar ketika ia mulai berani melawan.
“Roby itu pinter ngomong, pinter memutarbalikkan fakta. Dia sebenarnya dulu baik banget sama aku, tapi ternyata ada maunya. Akhirnya waktu aku tinggal sama dia, bulan-bulan terakhir dia kayak berani main kasar sama aku, karena aku udah mulai ngelawan kan, aku udah mulai dewasa, udah mulai nggak mau digituin lagi.”
Aurelie menyebut kekerasan fisik yang dialaminya terjadi berulang kali.
“Aku diludahin terus, aku dijambak, aku ditampar.”
Ia juga mengungkap bahwa kondisi tersebut sempat disaksikan orang lain karena bekas kekerasan yang terlihat jelas di tubuhnya.
“Aku sempat datang ke lokasi dengan biru-biru, jadi ada saksi juga. Biru-biru mesti dikasih foundation dulu.”


