Dee Bangkit ke Musik, (Jangan) Jatuh Cinta Jadi Penanda

19 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Penyanyi dan juga penulis buku kenamaan tanah air membawa kabar bahagia bagi penggemar karena baru saja merilis single terbarunya berjudul (Jangan) Jatuh Cinta. Lagu ini akan menjadi pembuka untuk album solo ketiganya setelah terakhir 17 tahun lalu merilis full album.

Dalam keterangan resmi yang diterima Holopis, diketahui single berjudul (Jangan) Jatuh Cinta tersebut digarap dari sebuah kolaborasi apik bersama dengan Rendy Pandugo sebagai arranger, serta Teddy Adhitya sebagai vocal director. Aransemen musiknya terasa hangat dan intim, diperkaya lapisan gitar serta harmoni vokal yang mengalir lembut dan emosional.

- Advertisement -Hosting Terbaik

(Jangan) Jatuh Cinta juga menandai langkah Dee sebagai seorang singer-songwriter setelah lama menaruh fokus pada dunia kepenulisan. Ia berharap karya barunya dapat menjadi pintu masuk yang segar bagi pendengar yang selama ini merindukan karya musik terbarunya.

Sebagaimana diketahui selain dikenal sebagai penulis sukses, Dee juga dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu yang produktif. Karya lagunya sudah berkibar sejak ia masih bergabung dengan Rida Sita Dewi (1995-2003), dan masih berlanjut ketika ia berkarir solo (lewat albumnya Out of Shell, 2006). Gebrakannya lewat Rectoverso (2007) masih bergaung hingga kini. Lagu ‘Malaikat Juga Tahu’ telah menjadi lagu legendaris yang dinyanyikan oleh berbagai penyanyi.

- Advertisement -

Setelahnya, Dee masih menulis hits bagi penyanyi papan atas Indonesia, antara lain: Marcell, Raisa, Ariel Noah, Andien, Titi DJ, dsb. Lewat Rapijali Book Soundtrack (2021), Dee pun berkolaborasi dengan nama-nama besar antara lain Iwan Fals, Bunga Citra Lestari, Mawar Eva, Adikara, Mikha Angelo, dan Barsena Bestandhi.

Akan tetapi, citra Dee sebagai penulis buku begitu kuatnya, hingga seakan menenggelamkan eksistensinya selaku penyanyi. Sebagai penyanyi solo, selama 17 tahun Dee belum pernah lagi mengeluarkan album secara utuh. Selama ini Dee amat fokus pada kariernya sebagai salah satu penulis terdepan di tanah air.

Tahun 2024, ayahanda Dee berpulang, dan meninggalkan kehilangan mendalam. Pada satu momen saat sendirian di rumahnya, Dee memutuskan untuk menghibur diri dengan bernyanyi. Ia mengeset ‘karaoke’ menggunakan laptop dan speaker yang yang ada di rumahnya. Mulailah ia bernyanyi. Seketika Dee merasakan perbedaan. Hatinya terasa hidup lagi. Ia pun bernyanyi, hampir setiap malam selama berminggu-minggu. Tak hanya ‘ritual’ itu membantunya sembuh dari kedukaan, Dee pun kembali jatuh cinta dengan bernyanyi. Tekadnya pun bulat. Ia ingin merengkuh kembali dunia bernyanyi. Kembali berkarya dalam bentuk album musik.

Niat itu terwujud pada 2025. Dibantu oleh tim manajemen—Arie Dagienkz, Riko Prayitno (Mocca), Bayu Fajri, dan Anthono—sebuah album baru Dee akan lahir. Album solo ketiga Dee ini akan dibuka oleh sebuah single berjudul: “(Jangan) Jatuh Cinta”.

Lewat lirik khasnya yang menyentuh sekaligus menggelitik, lugas sekaligus puitis, Dee mengangkat tema tentang pertentangan antara logika dan hati. Bagaimana logika—yang ingin melindungi hati dari tersakiti—berusaha mengendalikan perasaan. Sementara, hati selalu bicara dari kejujuran. Tak bisa perasaan dikemudikan. Sebab, siapalah kita di hadapan cinta? Pada akhirnya, jatuh cinta akan terjadi meski tak selalu diharapkan. Meski tak selalu terjadi pada kondisi ideal.

‘(Jangan) Jatuh Cinta’ menggandeng arranger Rendy Pandugo, dengan vocal director Teddy Adhitya. Dengan aransemen musik dan pilihan instrumen musik yang serba warm, kaya oleh lapisan gitar, dan juga harmoni vokal yang membius, ‘(Jangan) Jatuh Cinta’ akan memanjakan telinga sekaligus membelai hati pendengar musik Indonesia.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
19 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis