HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat pemulihan Aceh pascabencana. Salah satu langkah krusial yang terus dikebut adalah penyediaan air bersih melalui pembangunan sumur bor, baik sumur dangkal maupun sumur dalam, di berbagai daerah terdampak.
Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh menambah 57 titik pengeboran sumur yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, seperti Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Bener Meriah. Program ini melengkapi 24 titik sumur bor yang sebelumnya telah ditangani oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I.
Saat ini, progres pembangunan di lapangan bervariasi. Beberapa titik masih dalam tahap persiapan dan mobilisasi alat, sebagian sudah memasuki proses pengeboran, sementara sejumlah sumur telah rampung dan langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan paling mendesak dalam penanganan pascabencana karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan aktivitas warga.
“Pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat kembali mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, terutama air bersih. Fasilitas ibadah, layanan kesehatan, dan hunian sementara harus segera berfungsi normal agar warga bisa kembali beraktivitas dengan aman dan layak,” kata Menteri Dody, Selasa (13/1).
Di Kabupaten Aceh Tamiang, lima sumur bor dangkal telah selesai dan kini digunakan masyarakat. Lokasinya berada di sejumlah fasilitas penting seperti puskesmas, polindes, dan masjid. Kehadiran sumur ini menopang operasional layanan kesehatan, kegiatan ibadah, serta kebutuhan harian warga.
Sementara itu, pembangunan sumur bor dalam masih terus berjalan. Pengeboran terdalam mencapai 85 meter di Puskesmas Bendahara dan 65 meter di Puskesmas Rantau. Sejumlah lokasi lain mencatat progres antara 35 hingga 47 meter, bahkan ada yang sudah selesai dan dimanfaatkan warga.
Di Pidie Jaya, beberapa sumur dangkal telah berfungsi di kawasan hunian sementara (huntara) dan meunasah. Untuk sumur bor dalam, pengeboran masih berlangsung dengan kedalaman mencapai 14 hingga 35 meter di beberapa titik strategis.
Adapun di Bener Meriah, pembangunan sumur bor menghadapi tantangan geografis dan teknis. Meski demikian, pengeboran aktif tetap berjalan di sejumlah lokasi, sementara titik lainnya masih dalam tahap survei dan kajian geolistrik guna memastikan keberhasilan sumber air.
Program ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan agar masyarakat Aceh dapat kembali hidup dengan layak, sehat, dan produktif pascabencana.

