Pasien Super Flu Meninggal di Bandung, Menkes Ungkap Penyebab Utamanya
HOLOPIS.COM, JAKARTA - Kematian seorang pasien yang terjangkit Influenza A H3N2 subclade K atau Super Flu di Bandung tengah jadi sorotan. Pasien itu meninggal dalam perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjelaskan pasien yang terinfeksi 'Super Flu' itu karena memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid. Dengan demikian, pemicu utama kematian pasien itu bukan serangan virus Super Flu.
Budi mengatakan seorang yang terinfeksi virus belum tentu jadi penyebab tunggal kematiannya. Pasalnya, mesti dilihat dari aspek lain bila individu itu memiliki persoalan kesehatan kronis lainnya seperti komorbid.
Dia pun mencontohkan dengan ilustrasi suatu insiden ada seorang yang terinfeksi flu mengalami kecelakaan tertabrak mobil lalu meninggal. Maka itu, penyebab kecelakaan itu bukan karena flu.
"Penyebab kematiannya adalah kecelakaan tersebut, bukan flunya. Hal ini serupa dengan kasus di Bandung. pasien tersebut meninggal karena memang memiliki riwayat penyakit-penyakit lain yang cukup berat," kata Budi yang dikutip pada Selasa, (13/1/2026).
Budi menambahkan, kematian pasien di RSHS Bandung merupakan bagian dari 62 kasus Super Flu di Tanah Air.
Dia mengatakan kasus kematian pasien di Bandung merupakan data lama yang sudah dikantongi Kementerian Kesehatan. Ia menegaskan kasus itu bukan bagian dari klaster kasus baru.
Sebelumnya, pihak RSHS Bandung menyampaikan tengah menangani 10 pasien Super Flu sejak awal Januari 2026.
Ketua Tim Infeksi Penyakit Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung Yovita Hartantri menjelaskan jumlah itu baru teridentifikasi pada awal 2026. Pasien yang terjangkit memiliki variasi usia dan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
“Jumlah kasus yang kami tangani sekitar 10 kasus di awal Januari ini,” kata Yovita di Bandung, Jumat, (9/1/2026).
Yovita merincikan, dari 10 pasien itu, dua di antaranya merupakan bayi yang masing-masing berusia sembilan bulan dan satu tahun. Lalu, ada satu pasien berusia 11 tahun.
Kemudian, lima pasien berada dalam kurun waktu usia 20 hingga 60 tahun. Selain itu, ada dua pasien berusia di atas 60 tahun.
Dijelaskan Novita, gejala yang dialami pasien bervariasi. Ia bilang Super Flu merupakan varian yang bisa berevolusi sehingga berpotensi menimbulkan gejala yang lebih berat. Varian itu berbeda jika dibandingkan influenza musiman.
“Kalau dibandingkan dengan flu musiman, gejalanya memang bisa lebih berat. Terutama pada kelompok usia lanjut atau pasien dengan penyakit penyerta, perawatannya bisa lebih lama dan berisiko menimbulkan kondisi berat hingga kematian,” jelas Novita.