HOLOPIS.COM, JAKARTA – Modernisasi Kilang Pertamina Balikpapan dikabarkan memasuki fase penting seiring beroperasinya fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex.
Unit ini menjadi jantung Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dirancang untuk membawa kilang terbesar di Kalimantan Timur itu naik kelas ke standar kilang dunia yang lebih efisien, bernilai tambah tinggi, dan berwawasan lingkungan.
RFCC Complex memungkinkan pengolahan residu minyak yang sebelumnya sulit dimanfaatkan menjadi bahan bakar berkualitas tinggi dan produk petrokimia bernilai ekonomi besar.
Dengan fasilitas ini, Kilang Balikpapan kini mampu menghasilkan BBM setara standar Euro 5 yang lebih bersih dan rendah emisi, sekaligus memproduksi propylene dan sulfur yang selama ini belum bisa dihasilkan secara optimal.
Modernisasi Kilang Balikpapan melalui RFCC Complex menandai lompatan teknologi yang mengubah struktur produksi energi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri petrokimia regional.
Peningkatan kualitas ini bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada daya saing produk dalam negeri di pasar global.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa transformasi tersebut tercermin dari penurunan drastis kandungan sulfur BBM, dari standar Euro 2 dengan 2.500 part per million (ppm) menjadi Euro 5 dengan hanya 10 ppm.
“Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lainnya, Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm. Ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional, dengan kapasitas kilang mencapai 360 ribu barel per hari serta mendukung program hilirisasi,” ujar Baron dalam keterangan pers yang diterima oleh Holopis.com Minggu (11/1).
Pada saat yang sama, kapasitas kilang meningkat hingga 360 ribu barel per hari, menjadikan Balikpapan sebagai salah satu pusat produksi energi paling modern di Asia Tenggara.
Selain BBM, fasilitas baru ini juga memperluas portofolio produk. Kilang Balikpapan kini mampu menghasilkan LPG dalam jumlah signifikan, dengan tambahan produksi diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun.
Lonjakan ini memperkuat pasokan dalam negeri dan secara bertahap menekan ketergantungan terhadap impor.
Dari sisi teknologi, kompleksitas kilang melonjak tajam. Nelson Complexity Index (NCI) meningkat dari 3,7 menjadi 8,0, menandakan kemampuan pengolahan yang jauh lebih canggih.
Sementara Yield Valuable Product (YVP) naik dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen, mencerminkan efisiensi tinggi dalam mengonversi minyak mentah menjadi produk bernilai.
Dengan kombinasi teknologi mutakhir dan diversifikasi produk, Kilang Balikpapan kini tak lagi hanya menjadi penghasil BBM, tetapi juga simpul penting dalam rantai industri petrokimia nasional.
Transformasi ini mempertegas arah modernisasi Pertamina yang semakin terintegrasi dengan agenda ketahanan energi, keberlanjutan, dan daya saing industri di era transisi energi global.



