HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perbincangan publik dalam beberapa waktu terakhir ramai dipicu oleh terbitnya buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans.
Memoar tersebut berisi kisah personal yang membuka kembali luka lama tentang bagaimana seorang remaja dapat terjerat dalam relasi yang tidak sehat dan berujung pada kekerasan seksual.
Cerita yang disampaikan dengan jujur itu membuat banyak pembaca merasa tersentak, sekaligus marah.
Dalam bukunya, Aurelie mengisahkan pengalaman saat dirinya masih berusia 15 tahun dan menjalin relasi dengan seorang pria berusia 30 tahun. Hubungan itu, yang kemudian berujung pada pemerkosaan dan pernikahan tidak sah, digambarkan sebagai proses manipulasi yang berjalan perlahan namun sistematis.
Pengakuan tersebut memantik diskusi luas tentang bagaimana praktik semacam ini bisa terjadi di sekitar kita.
Kisah ini juga memperkenalkan kembali istilah “child grooming” ke ruang publik Indonesia, sebuah konsep yang kerap disalahpahami atau bahkan diabaikan meski dampaknya sangat merusak.
Apa Itu Child Grooming
Child grooming adalah proses ketika seorang pelaku secara sengaja membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja untuk mendapatkan kepercayaan, lalu memanfaatkannya demi kepentingan seksual.
Proses ini jarang berlangsung tiba-tiba. Biasanya dimulai dari perhatian berlebih, pujian, hingga pemberian rasa aman palsu yang membuat korban merasa istimewa.
Pola Manipulasi yang Sulit Disadari
Dalam banyak kasus, termasuk yang digambarkan Aurelie, pelaku memosisikan diri sebagai sosok yang “mengerti” dan “melindungi”.
Ketika korban sudah merasa bergantung, batasan mulai dilanggar sedikit demi sedikit. Di titik ini, korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan, karena relasi tersebut terasa seperti kasih sayang.
Dampak Psikologis Jangka Panjang
Child grooming tidak hanya berujung pada kekerasan fisik, tetapi juga meninggalkan luka mental yang dalam. Rasa bersalah, kebingungan identitas, hingga trauma berkepanjangan kerap menghantui korban hingga dewasa.
Memoar Broken Strings menggambarkan bagaimana pengalaman masa remaja bisa membentuk ulang cara seseorang memandang diri dan dunia.
Mengapa Buku Ini Memicu Reaksi Keras
Pengakuan terbuka tentang relasi ilegal dan pemerkosaan membuat banyak pembaca bereaksi emosional. Amarah netizen muncul bukan semata karena kisahnya, melainkan karena realitas bahwa praktik child grooming masih terjadi dan sering luput dari perhatian.
Buku ini menjadi cermin yang memaksa publik melihat sisi gelap relasi yang selama ini kerap disamarkan sebagai “cinta”.



