Fakta Unik Ciplukan, Buah Liar yang Kini Bernilai Kesehatan Tinggi


Oleh : Fisca Dwi Astuti

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Ciplukan selama ini identik dengan tanaman liar yang tumbuh di kebun, tepi sawah, hingga lahan kosong. Buah kecil berwarna kuning dengan balutan kelopak tipis ini kerap dipetik anak-anak dan dimakan langsung.

Namun di balik tampilannya yang sederhana, ciplukan menyimpan potensi kesehatan yang mulai banyak dilirik masyarakat.

Dalam dunia botani, ciplukan dikenal dengan nama Physalis angulata. Tanaman ini tumbuh subur di daerah tropis, termasuk Indonesia.

Keberadaannya yang mudah ditemukan membuat ciplukan sejak lama dimanfaatkan sebagai tanaman herbal tradisional oleh masyarakat di berbagai daerah.

Seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat dan kembali ke bahan alami, ciplukan kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Buah ini bahkan mulai dibudidayakan dan diolah menjadi berbagai produk kesehatan bernilai ekonomi.

Ciri Unik Ciplukan yang Mudah Dikenali

Pohon buah ciplukan. [Foto: Istimewa]
Salah satu keunikan ciplukan terletak pada buahnya yang terbungkus kelopak menyerupai lentera. Kelopak ini berfungsi sebagai pelindung alami dari hama dan cuaca. Saat matang, buah ciplukan berubah warna menjadi kuning keemasan dengan rasa manis dan sedikit asam.

Di Indonesia, ciplukan memiliki banyak sebutan lokal, seperti ceplukan, kopok-kopokan, hingga morel berry. Meski namanya berbeda, karakteristik dan manfaatnya tetap sama.

Kandungan Nutrisi yang Mendukung Daya Tahan Tubuh

Ciplukan diketahui mengandung vitamin C yang cukup tinggi, sehingga berpotensi membantu menjaga sistem imun. Selain itu, buah ini juga mengandung antioksidan alami seperti flavonoid dan polifenol yang berperan menangkal radikal bebas dalam tubuh.

Kandungan tersebut membuat ciplukan kerap dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan sel dan memperlambat proses penuaan dini.

Potensi Ciplukan dalam Pengobatan Tradisional

Dalam pengobatan tradisional, ciplukan sering dimanfaatkan untuk membantu mengontrol kadar gula darah. Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam ciplukan berpotensi mendukung metabolisme glukosa.

Tak hanya buahnya, daun dan batang ciplukan juga digunakan sebagai ramuan herbal. Rebusan daunnya dipercaya memiliki sifat antiinflamasi dan antibakteri yang membantu meredakan keluhan ringan.

Dari Tanaman Liar Menjadi Produk Bernilai

Kini, ciplukan mulai diolah menjadi teh herbal, kapsul ekstrak, hingga camilan sehat. Transformasi ini menunjukkan bahwa tanaman liar yang dulu diabaikan ternyata menyimpan potensi besar bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat.

Keberadaan ciplukan menjadi bukti bahwa kekayaan alam lokal Indonesia masih menyimpan banyak manfaat yang relevan dengan kebutuhan gaya hidup modern.

Tampilan Utama