Dicap Musuh Moral, Pornografi Ternyata Punya Sisi Positif dari Segi Medis

Konten Dewasa
35 Shares

Berita Relasi :

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pornografi kerap diposisikan sebagai musuh moral. Ia dicap jorok, merusak, dan dianggap biang turunnya nilai sosial. Namun jika ditarik ke meja sains, ceritanya tidak sesederhana hitam-putih.

Menurut dr. Oka Negara, ketertarikan manusia terhadap materi seksual, termasuk pornografi, adalah respons biologis yang wajar, bukan penyimpangan otomatis.

Advertorial

Sejak pubertas, otak manusia dirancang untuk merespons rangsangan seksual. Ketika seseorang melihat tubuh telanjang atau konten bermuatan seksual, otak melepaskan hormon seperti endorfin dan oksitosin.

Dua hormon itulah yang berperan besar dalam menciptakan rasa senang, nyaman, dan relaks. Respons ini tidak eksklusif pada laki-laki atau perempuan dewasa saja, tetapi juga menjelaskan rasa ingin tahu remaja yang sedang berada dalam fase eksplorasi biologisnya.

Masalahnya bukan pada munculnya rasa senang tersebut, melainkan pada bagaimana masyarakat mengatur batasannya melalui norma dan hukum.

Di Indonesia, pornografi dilarang keras. Sementara di negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara Eropa, pornografi diperbolehkan dengan regulasi ketat, mulai dari batas usia hingga sensor visual.

Hal tersebut menunjukkan, bahwa pendekatan terhadap pornografi sangat dipengaruhi oleh konstruksi sosial, bukan semata faktor kesehatan.

Menariknya, dari sisi medis, pornografi tidak selalu dipandang negatif. Dalam kondisi tertentu, konten seksual justru memiliki manfaat personal dan klinis.

Jika dikonsumsi secara terbatas dan tidak ekstrem, pornografi dapat membantu relaksasi, meredakan ketegangan, bahkan menjadi referensi variasi aktivitas seksual bagi pasangan dewasa yang sah.

Dalam praktik medis, materi pornografi juga digunakan untuk membantu prosedur analisis sperma atau sebagai bagian dari terapi seksual.

Aktivitas seksual itu sendiri, baik bersama pasangan yang sah maupun secara mandiri, selama dilakukan tanpa risiko, berkontribusi pada kebugaran fisik dan psikologis.

Orgasme yang memicu pelepasan endorfin dan oksitosin berperan dalam menjaga kualitas hidup, kesehatan seksual, hingga memperlambat proses penuaan dini. Dalam konteks ini, masturbasi pun dipandang sebagai aktivitas yang aman selama tidak melibatkan alat berbahaya atau perilaku kompulsif.

Namun, garis batas tetap harus tegas. Pornografi menjadi bermasalah ketika dikonsumsi secara berlebihan, mengganggu aktivitas harian, atau mengisolasi seseorang dari kontak sosial.

Konten ekstrem, seperti yang mengandung kekerasan, eksploitasi anak, atau perilaku menyimpang, jelas berbahaya dan harus dihindari.

Dengan kata lain, pornografi bukanlah “jahat secara default”. Ia adalah stimulus yang efeknya sangat bergantung pada frekuensi, konteks, dan kontrol diri penggunanya.

💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
35 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terbaru

Jangan Lewatkan