IHSG Menguat di Sesi I, Sempat Tembus Level 9.000 untuk Pertama Kalinya
HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak sejarah pada perdagangan Kamis (8/1/2026). Pada sesi I, IHSG sempat menembus level psikologis 9.000 dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level 9.002.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menyentuh level tertinggi tersebut sekitar pukul 10.00 WIB. Meski sempat terkoreksi setelah mencapai puncaknya, indeks tetap bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi I.
Pada pukul 10.50 WIB, IHSG tercatat menguat 37,56 poin atau naik 0,42% ke posisi 8.982,38. Sementara itu, BEI mencatat IHSG ditutup menguat 39,67 poin atau 0,44% ke level 8.984 pada akhir sesi I. Rentang pergerakan indeks berada di kisaran 8.903–9.002 dengan nilai transaksi mencapai Rp14,79 triliun.
Penguatan Ditopang Sejumlah Sektor
Kinerja positif IHSG didorong oleh penguatan sejumlah sektor saham. Sektor energi mencatat kenaikan 1,38%, sektor konsumer non primer menguat 1,50%, sektor properti naik 1,15%, sektor kesehatan menguat 0,30%, serta sektor teknologi naik 0,09%.
Sebaliknya, tekanan terlihat pada saham-saham sektor konsumer primer, infrastruktur, dan material dasar yang bergerak di zona merah pada sesi perdagangan tersebut.
Dari sisi saham berkapitalisasi besar (big cap), sejumlah emiten menjadi penopang utama laju IHSG, di antaranya DSSA, AMMN, PTRO, PGUN, BRPT, BYAN, hingga CBDK.
Sementara itu, saham-saham yang mencatatkan penguatan tertinggi (top gainers) antara lain KOCI yang melonjak 31,91% ke level Rp124, CRSN naik 26,39% menjadi Rp182, RLCO menguat 24,90% ke Rp3.210, NSSS naik 22,82% menjadi Rp1.265, serta SMLE yang menguat 17,26% ke posisi Rp197.
Pergerakan IHSG Sehari Sebelumnya
Sebagai perbandingan, pada perdagangan Rabu (7/1/2026), IHSG ditutup menguat 11,2 poin atau 0,13% ke level 8.944, yang saat itu juga menjadi rekor tertinggi baru. Investor asing tercatat kembali melakukan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp201,15 miliar.
Saham BMRI menjadi incaran utama investor asing dengan nilai net buy mencapai Rp648,47 miliar. Penguatan IHSG pada perdagangan tersebut ditopang sektor industri yang melonjak 2,40%, sektor material dasar naik 1,11%, sektor konsumer primer menguat 1,18%, sektor energi naik 0,51%, serta sektor infrastruktur menguat 0,16%.
Namun demikian, tekanan terjadi pada sektor konsumer non primer, teknologi, keuangan, dan properti.
Dengan tren penguatan yang masih berlanjut dan dukungan dari saham-saham berkapitalisasi besar, pergerakan IHSG ke depan akan terus dipengaruhi oleh arus dana asing, sentimen global, serta kinerja fundamental emiten di pasar modal domestik.