HOLOPIS.COM, JAKARTA – Keinginan memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu masih menjadi topik yang sering dibicarakan pasangan suami istri. Salah satu yang cukup populer adalah upaya hamil anak perempuan melalui pengaturan waktu dan posisi berhubungan intim.
Metode ini kerap dikaitkan dengan teori Shettles yang diperkenalkan oleh Dr. Landrum Shettles sejak era 1960-an. Dalam metode Shettles dijelaskan, bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh kromosom yang dibawa sperma.
Sperma pembawa kromosom X akan menghasilkan bayi perempuan, sementara sperma berkromosom Y menghasilkan bayi laki-laki. Menurut teori ini, sperma X bergerak lebih lambat tetapi lebih kuat dan mampu bertahan lebih lama di dalam saluran reproduksi wanita dibandingkan sperma Y.
Kondisi tersebut kemudian melahirkan berbagai pendekatan alami yang diyakini dapat meningkatkan peluang hamil anak perempuan, salah satunya melalui posisi bercinta.
Pada dasarnya, semua posisi hubungan intim dapat menyebabkan kehamilan selama dilakukan pada masa subur. Namun, metode Shettles menyarankan posisi bercinta dengan penetrasi yang tidak terlalu dalam sebagai salah satu cara mendukung kehamilan anak perempuan.
Posisi misionaris, di mana wanita berbaring telentang, sering disebut sebagai posisi yang lebih ideal. Alasannya, sperma dilepaskan lebih dekat ke mulut vagina, lingkungan yang cenderung lebih asam.
Kondisi tersebut dinilai lebih menguntungkan bagi sperma kromosom X yang lebih tahan, sementara sperma Y lebih cepat melemah.
Meski terdengar logis secara teori, para ahli menegaskan bahwa posisi seks bukanlah faktor penentu mutlak jenis kelamin bayi. Peluang keberhasilan tetap bergantung pada banyak faktor biologis yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan manusia.
Menahan Orgasme, Perlukah?
Selain posisi bercinta, metode Shettles juga menyoroti peran orgasme wanita. Dalam teorinya, orgasme dapat memicu keluarnya cairan vagina yang bersifat basa. Lingkungan basa ini diyakini lebih mendukung sperma kromosom Y untuk bertahan hidup lebih lama.
Oleh karena itu, bagi pasangan yang ingin hamil anak perempuan, disarankan untuk menahan orgasme. Namun, pendekatan ini bukan tanpa catatan. Menahan orgasme dapat menyebabkan ketegangan fisik dan psikologis pada wanita.
Lebih penting lagi, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan bahwa orgasme atau tidak orgasme secara langsung memengaruhi jenis kelamin bayi.
Para pakar kesehatan menegaskan bahwa metode alami seperti posisi seks dan pengaturan orgasme sebaiknya dipahami sebagai upaya pendukung, bukan jaminan. Jenis kelamin bayi tetap merupakan hasil proses biologis alami yang kompleks.
Bagi pasangan yang merencanakan kehamilan, menjaga kesehatan reproduksi, memahami masa subur, serta berkonsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah paling rasional dan aman.

