HOLOPIS.COM, JAKARTA – Badai salju yang melanda wilayah Suriah utara pada 31 Desember lalu menghantam sedikitnya 90 lokasi pengungsian. Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 150.000 pengungsi terdampak, dengan sekitar 5.000 tempat tinggal sementara dilaporkan rusak atau hancur akibat cuaca ekstrem tersebut.
“Mitra-mitra kemanusiaan di kegubernuran Aleppo, Idlib, dan Al-Hasakah melaporkan dua bayi meninggal dunia akibat paparan suhu dingin yang sangat ekstrem selama badai berlangsung,” demikian disampaikan, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), dikutip Holopis.com, Rabu (7/1).
OCHA juga memperingatkan ribuan pengungsi lainnya menghadapi risiko serius, termasuk hipotermia dan penyakit pernapasan, karena terpapar suhu beku tanpa perlindungan memadai. Sejumlah organisasi kemanusiaan telah menyalurkan bantuan darurat berupa kompor dan bahan bakar kepada lebih dari 10.000 pengungsi yang tinggal di kamp-kamp terdampak.
Dalam laporan terbarunya, OCHA menyampaikan bahwa PBB bersama para mitranya membutuhkan dana sekitar 112 juta dolar AS atau setara Rp1,87 triliun untuk mendukung bantuan musim dingin yang menyelamatkan nyawa pada periode September 2025 hingga Maret 2026.
Namun hingga awal Januari, pendanaan yang berhasil dihimpun baru mencapai 29 juta dolar AS, sehingga masih terdapat kekurangan dana sekitar 74 persen dari total kebutuhan.

