HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berpeluang melanjutkan tren penguatan, setelah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High pada perdagangan Senin kemarin (5/1/2026).
Analis Phintraco Sekuritas memproyeksi indeks harga saham nasional itu diperkirakan bakal menguji level resistance di 8.900, sebelum menuju ke level psikologis 9.000.
Secara teknikal, analis Phintraco Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih berada dalam tren positif. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) membentuk pola golden cross.
Pola tersebut didukung oleh penguatan Stochastic RSI di area pivot 8.800, yang diperkuat dengan kenaikan volume beli.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menguji level 8.900, sebelum menuju level psikologis 9.000,” tulis analis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, dikutip Holopis.com, Selasa (6/1/2026).
Dari sisi sektoral, sektor basic material mencatatkan kenaikan terbesar seiring dengan menguatnya mayoritas harga komoditas logam di pasar global. Sentimen geopolitik terkait serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela dinilai tidak terlalu direspons negatif oleh pasar saham, namun justru mendorong kenaikan harga komoditas logam.
Selain itu, saham-saham di sektor asuransi juga menunjukkan kinerja positif. Penguatan sektor ini ditopang sentimen penerapan batas pemenuhan ketentuan modal minimum perusahaan asuransi tahap I yang akan mulai berlaku pada 31 Desember 2026, sesuai dengan POJK Nomor 23 Tahun 2023.
Dari pasar regional, mayoritas indeks bursa Asia ditutup menguat pada perdagangan Senin (5/1). Namun, nilai tukar rupiah justru melemah ke level Rp16.740 per dolar AS di pasar spot, seiring dengan kecenderungan melemahnya mata uang Asia lainnya.
Dari sisi domestik, pasar merespons rilis data inflasi dan neraca perdagangan. Inflasi Indonesia pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan November 2025 yang sebesar 2,72 persen yoy.
Angka inflasi tersebut menjadi level tertinggi sejak April 2024, namun masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5–3,5 persen.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 tercatat menyusut menjadi US$2,66 miliar dari US$4,34 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan surplus dipengaruhi oleh melemahnya ekspor sebesar 6,6 persen yoy, di tengah kenaikan impor sebesar 0,46 persen yoy.
Untuk perdagangan Selasa (6/1), Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham top picks, yakni EXCL, TLKM, ASII, TINS, dan DOID, yang dinilai berpotensi mencatatkan kinerja positif seiring tren penguatan pasar.


