HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintahannya terbuka terhadap kritik yang bersifat membangun. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi fitnah, karena perbuatan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai agama dan berpotensi merusak persatuan bangsa.
“Silakan koreksi, silakan kritik, bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah, saya yakin di agama Kristen begitu juga,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan dalam Perayaan Natal Nasional di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo sebagai respons atas dinamika yang berkembang di ruang publik, terutama di media sosial.
Menurutnya, media sosial sejatinya membawa banyak manfaat positif, namun kerap disalahgunakan untuk menggiring opini tanpa dasar fakta yang jelas. Kondisi itu dinilai justru memicu kegaduhan dan memperkeruh suasana.
Prabowo mengingatkan bahwa kebohongan yang disebarkan secara masif dapat menimbulkan perpecahan, kecurigaan, dan kebencian, yang pada akhirnya melemahkan Indonesia sebagai bangsa besar.
Dengan nada santai, Prabowo juga menyinggung fenomena sejumlah pihak yang merasa paling memahami isi pikirannya.
“Banyak pakar itu bicara asal bicara. Jadi saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikiran Prabowo Subianto. Kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Meski demikian, Prabowo menegaskan dirinya memilih untuk memaafkan berbagai kritik dan tudingan tersebut. Ia menilai persatuan dan kerukunan jauh lebih penting dibandingkan mempertajam perbedaan.
Ia pun mengutip ajaran dalam Alkitab yang menekankan pentingnya sikap saling memaafkan.
“Di ajaran Nasrani harus memaafkan. Forgive us our trespasses as we forgive those who trespass against us. Jadi saya sebenernya selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan, saya ingin persatuan daripada perpecahan,” pungkas Prabowo.


