HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perum Bulog menyiapkan terobosan berupa pembayaran digital kepada para petani sebagai bagian dari strategi utama mendukung target penyerapan beras nasional sebesar 4 juta ton di tahun 2026.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa transformasi sistem pembayaran ini menjadi salah satu fokus Bulog dalam melaksanakan penugasan pemerintah, sebagaimana diputuskan dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas).
Pernyataan tersebut disampaikan Rizal pada Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia (UI), di Depok, Jawa Barat, Senin (5/1).
Rizal menjelaskan, pembayaran hasil penyerapan gabah kepada petani di lapangan selama ini masih banyak dilakukan secara tunai. Kondisi tersebut dinilainya memiliki sejumlah risiko, terutama dalam hal transparansi, baik dari sisi keamanan petugas maupun potensi penyimpangan.
“Kami juga sedang membuat konsep pak Menteri yaitu pembayaran khusus untuk para petani yang selama ini dibayar dengan cash di lapangan. Kami akan bayar dengan proses, dengan digitalisasi,” katanya menjelaskan, dikutip Holopis.com.
Ia menjelaskan, penerapan pembayaran digital bertujuan untuk meningkatkan keamanan, terutama bagi petugas yang selama ini harus membawa uang tunai dalam jumlah besar saat transaksi di lapangan.
Selain itu, skema ini diharapkan dapat mendorong petani untuk lebih terbiasa menabung dan mengelola keuangan secara formal.
Lebih lanjut, Rizal menegaskan bahwa digitalisasi pembayaran juga menjadi instrumen penting untuk memastikan harga gabah kering panen (GKP) diterima petani sesuai dengan ketentuan pemerintah, tanpa adanya potongan di luar mekanisme resmi sebagaimana regulasi yang ada.
“Ini akan lebih memberikan pelayanan yang lebih maksimal kepada masyarakat. Jadi tidak ada lagi petani yang mendapat harga harga gabah GKP itu di bawah Rp 6.500 per kilogram,” imbuh dia.
Di samping transformasi pembayaran, Bulog juga tetap memperkuat kesiapan infrastruktur pendukung lainnya, termasuk penguatan kapasitas pergudangan untuk menyerap hasil panen petani. Bulog menargetkan ketersediaan stok gudang minimal 2 juta ton pada semester I 2026 guna menyambut musim panen awal.
Dengan digitalisasi sistem pembayaran dan penguatan infrastruktur logistik, Bulog optimistis penugasan penyerapan 4 juta ton beras pada 2026 dapat berjalan lebih efektif, transparan, serta memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani dan stabilitas pangan nasional.

