HOLOPIS.COM, JAKARTA – Episode terakhir Stranger Things sejak awal langsung tancap gas. Tidak ada pemanasan panjang karena seluruh aksi yang disuguhkan terasa sebagai hasil logis dari build up selama satu musim penuh. Sang kreator, The Duffer Brothers seolah sadar bahwa penonton datang dengan ekspektasi tinggi, dan mereka membayarnya dengan tempo cepat serta ketegangan yang konsisten.
Ini dia review lengkap episode terakhir Stranger Things, hati-hati spoiler bagi Sobat Holopis yang belum menonton ya!
Payoff Musim Panjang dan Permainan Emosi ala The Duffer Brothers
Sejak menit awal, episode penutup ini dipenuhi adegan aksi sebagai puncak dari konflik yang dibangun sejak musim keempat. Salah satu momen paling efektif hadir lewat Steve Harrington (Joe Keery). Penonton yang sejak lama cemas akan nasib Steve kembali ‘dikerjai’ dengan adegan nyaris mati yang dibuat begitu meyakinkan. Layar yang mendadak menghitam selama beberapa detik sukses membuat jantung berdegup lebih kencang.

Alih-alih terasa manipulatif, permainan emosi ini justru terasa fun dan cerdas. The Duffer Brothers memahami betul kedekatan emosional penonton dengan Steve, lalu memanfaatkannya untuk menjaga tensi tetap tinggi sepanjang episode. Trik ini menjadi bukti bahwa ketegangan tidak selalu harus dibangun lewat kematian sungguhan.
Boss Fight Terakhir, Kehebatan Eleven, dan Loyalitas Hawkins Gang
Pertarungan terakhir melawan Vecna (Jamie Campbell Bower) dan The Mind Flayer memang berlangsung relatif singkat, tetapi tetap terasa padat dan memuaskan. Fokus utama kembali pada Eleven (Millie Bobby Brown), yang menunjukkan kekuatan maksimalnya di momen krusial. Namun, kemenangan tidak datang dari kekuatan El semata.

Kesetiaan dan kecerdikan Hawkins gang menjadi elemen penting. Mike Wheeler (Finn Wolfhard), Will Byers (Noah Schnapp), Dustin Henderson (Gaten Matarazzo), Lucas Sinclair (Caleb McLaughlin), Max Mayfield (Sadie Sink), hingga Hopper (David Harbour) masing-masing memiliki peran yang terasa relevan. Dinamika tim ini mengingatkan bahwa Stranger Things sejak awal bukan tentang satu pahlawan, melainkan tentang kebersamaan.
Pengorbanan Eleven, Teori Mike, dan Ending Ambigu yang Dipilih Penonton
Puncak emosional episode hadir saat Eleven memutuskan untuk mengorbankan dirinya demi menyelamatkan dunia. Kamera dengan sengaja menyorot wajah-wajah yang paling terikat dengannya, terutama Hopper sebagai ayah angkat dan Mike sebagai kekasih. Tanpa dialog panjang, adegan ini bekerja sangat efektif menghancurkan emosi penonton.
Setelah itu, serial membawa penonton ke lompatan waktu 18 bulan. Hampir semua karakter mendapatkan akhir yang relatif bahagia dan terasa pantas. Dunia kembali normal, luka perlahan sembuh, dan kehidupan berjalan. Namun, Stranger Things tidak memilih penutupan yang sepenuhnya pasti.
Twist terakhir datang lewat narasi Mike saat permainan Dungeons and Dragons. Ia mengemukakan teori bahwa Eleven mungkin masih hidup. Kecurigaannya muncul karena alat militer yang seharusnya menyakiti Eleven justru tidak berdampak. Dalam versinya, Eleven dan Kali (Linnea Berthelsen) bekerja sama menciptakan ilusi kematian El demi melindunginya.

Apakah teori ini kebenaran atau sekadar cara Mike dan teman-temannya bertahan dari kehilangan tidak pernah dijawab secara eksplisit. Penonton diajak untuk ‘choose to believe’. Ambiguitas ini menjadi langkah cemerlang The Duffer Brothers agar Stranger Things tetap hidup dalam perdebatan, bahkan setelah kisahnya berakhir.
Secara keseluruhan, meski sedikit kontroversial, ending Stranger Things terasa memuaskan secara emosional dan naratif. Keputusan untuk menutup cerita dengan harapan yang ambigu, alih-alih kepastian mutlak, membuat serial ini meninggalkan kesan mendalam.
Ending ini layak mendapat skor 8/10 dari Holopis.com, dan mungkin bisa lebih tinggi andai Steve Harrington dan Nancy Wheeler benar-benar berakhir bersama.
Kalau menurut Sobat Holopis, gimana?

