HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sekretaris Jenderal Gerakan Muslim Indonesia Raya (GEMIRA), Sudarto menekankan pentingnya penanganan trauma healing bagi para korban bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Sudarto menyebut, dampak bencana tidak hanya merusak infrastruktur dan menghilangkan harta benda, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia.
“Bencana alam tidak berhenti pada saat air surut atau longsor dibersihkan. Ada trauma, ketakutan, dan kecemasan yang masih membekas. Karena itu, trauma healing menjadi bagian penting dari proses pemulihan,” ujar Sudarto kepada Holopis.com, Minggu (4/1/2026).
Ia menegaskan, trauma healing merupakan kebutuhan mendesak yang harus diperoleh para korban bencana, terlebih menjelang bulan suci Ramadan yang seharusnya dijalani dengan ketenangan batin dan kekhusyukan ibadah.
Menurutnya, pendekatan pemulihan psikososial seperti trauma healing perlu dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan, seiring dengan pemenuhan kebutuhan dasar para korban bencana.
Sudarto mengingatkan, trauma yang tidak ditangani dengan baik berpotensi mengganggu kesehatan mental masyarakat terdampak, serta menurunkan kualitas ibadah di bulan yang seharusnya menjadi ladang pahala.
“Ramadan adalah bulan refleksi dan penguatan spiritual. Jangan sampai saudara-saudara kita justru menjalani Ramadan dengan rasa takut dan cemas akibat trauma yang belum pulih,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sudarto mendorong kolaborasi antara pemerintah, relawan, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan untuk menghadirkan layanan trauma healing yang humanis serta berbasis kearifan lokal. Ia menilai, pendekatan keagamaan juga dapat menjadi instrumen efektif dalam membantu pemulihan kondisi psikologis korban.
Selain itu, Sudarto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menunjukkan solidaritas dan kepedulian, tidak hanya melalui bantuan materi, tetapi juga lewat dukungan moral dan pendampingan emosional.
“Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali rumah dan fasilitas umum, tetapi juga memulihkan harapan dan ketenangan jiwa. Ini kerja kemanusiaan yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.

