HOLOPIS.COM, JAKARTA – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 dinilai bukan sekadar reli sesaat, melainkan menjadi sinyal bahwa Indonesia memulai tahun ini dari posisi yang kuat.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, melihat kenaikan IHSG sebagai bagian dari reli regional Asia yang terjadi seiring dengan aksi beli kembali saham oleh investor setelah profit taking di akhir 2025.
“IHSG meningkat sekitar 1,2 persen ke level 8.748 seiring dengan kenaikan luas bursa saham Asia, didorong aksi beli kembali saham oleh investor setelah profit taking di akhir 2025,” kata Andry dalam keterangan tertulis, dikutip Holopis.com, Sabtu (3/1/2026).
Ia menambahkan, meskipun Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia melandai ke level 51,2 pada Desember 2025, indikator tersebut masih berada di zona ekspansi.
Di sisi lain, masuknya dana asing, penurunan imbal hasil obligasi, serta kondisi makro domestik yang relatif terjaga menjadi sinyal positif masa depan pasar modal Indonesia ke depan.
“Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan arus masuk bersih sekitar Rp1,1 triliun ke pasar saham, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05 persen, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia,” kata Andry.
Masuknya dana asing dan penurunan yield obligasi tersebut menunjukkan persepsi risiko Indonesia yang semakin membaik di mata investor.
Kondisi tersebut sekaligus mencerminkan keyakinan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi dan stabilitas makro yang dijaga pemerintah serta otoritas terkait.
Dengan kombinasi penguatan pasar saham, arus masuk modal asing, dan penurunan imbal hasil obligasi, Andry menilai Indonesia tidak hanya menikmati reli jangka pendek. Lebih dari itu, pasar tengah memasuki fase penguatan yang lebih berkelanjutan.
“Dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang solid, dan valuasi pasar yang masih atraktif membuat Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara, bukan sekadar reli jangka pendek, melainkan fase penguatan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar keuangan Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi yang relatif kokoh, di tengah dinamika global yang terjadi.

