Bencana Sumatera Tahan Nilai Tambah Manufaktur Nasional hingga Rp15 Triliun
HOLOPIS.COM, JAKARTA — Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh pada akhir 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan dampak sosial, tetapi juga memberi tekanan signifikan terhadap kinerja industri nasional.
Hal itu disampaikan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat memimpin rapat perdana bersama jajaran Kementerian Perindustrian pada awal 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Dengan menggunakan pendekatan kebijakan berbasis pangsa nilai tambah, Menperin menyebut dampak banjir di Sumatera dan Aceh diperkirakan menahan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp11–15 triliun.
“Nilai tersebut merupakan nilai tambah yang hilang atau tertunda sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional,” ujar Menperin dalam siaran pers yang dikutip Holopis.com, Sabtu (3/1/2026).
Namun demikian, lanjut Menperin, dampaknya tetap terasa kuat dalam jangka pendek, terutama pada subsektor yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi regional.
Subsektor yang paling terdampak antara lain agroindustri, makanan dan minuman, kimia dasar, serta industri berbasis komoditas. Industri-industri tersebut sangat sensitif terhadap gangguan logistik dan pasokan bahan baku.
Menperin mengungkapkan, dampak bencana terhadap sektor industri secara umum tidak semata-mata disebabkan oleh kerusakan fasilitas produksi.
Faktor utama justru berasal dari gangguan sistemik pada rantai pasok dan logistik, mulai dari terputusnya akses jalan dan jembatan, terganggunya distribusi BBM, hingga ketidakstabilan pasokan listrik dan air.
“Bagi industri manufaktur yang bersifat just-in-time dan padat logistik, gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja sudah cukup untuk menghentikan lini produksi dan menimbulkan kehilangan output yang tidak kecil,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Menperin menekankan bahwa besarnya dampak tersebut tidak sepenuhnya sebanding dengan ukuran basis industri di wilayah terdampak.
Sumatera, kata dia, memiliki peran strategis sebagai simpul logistik dan pemasok input antara bagi kawasan industri di wilayah lain, termasuk Pulau Jawa.
Akibatnya, gangguan di satu wilayah dapat menimbulkan efek berantai yang menekan output manufaktur nasional secara keseluruhan.
Menperin menyebut bahwa peristiwa yang terjadi menjadi pengingat bahwa ketahanan industri nasional tidak hanya ditentukan oleh lokasi pabrik, tetapi juga oleh ketahanan infrastruktur, sistem logistik, dan jaringan distribusi antarwilayah.
“Bencana harus dipahami sebagai supply-side shock yang dampaknya cepat menyebar dan berpotensi menahan pemulihan ekonomi jika tidak ditangani secara terkoordinasi,” tegas Menperin.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Kementerian Perindustrian menyiapkan langkah pemulihan industri kecil pascabencana secara bertahap dan terukur.
Pada 2026, program pemulihan difokuskan pada pemetaan lanjutan kebutuhan industri kecil, penetapan penerima bantuan, pemberian mesin dan peralatan, serta pemulihan proses produksi.
Pemerintah berharap, melalui program restarting ini, pemulihan industri tidak hanya mengembalikan kapasitas produksi yang hilang, tetapi juga memperkuat ketahanan industri nasional agar lebih siap menghadapi risiko serupa di masa mendatang.