HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pergantian tahun Masehi sering kali menjadi momen yang disadari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Ketika kalender berganti ke tahun 2026, manusia diingatkan bahwa waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Hari demi hari berlalu, usia bertambah, dan kesempatan untuk beramal kian berkurang.
Dalam perspektif keimanan, pergantian tahun bukanlah sekadar seremonial, melainkan tanda kebesaran Allah SWT atas berjalannya masa yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Bagi umat Islam, awal tahun baru seharusnya menjadi ruang untuk muhasabah diri. Setiap detik yang telah terlewati menyimpan catatan amal, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Tahun yang berlalu membawa jejak kesalahan, kelalaian, sekaligus kebaikan yang patut disyukuri.
Oleh karena itu, menyambut tahun 2026 hendaknya dilakukan dengan kesadaran spiritual, yakni memperbarui niat, memperkuat iman, dan meneguhkan tekad untuk menjalani kehidupan yang lebih diridai Allah SWT.
Melalui mimbar Jumat, momentum awal tahun ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Khutbah Jumat tidak hanya berfungsi sebagai pengingat ibadah, tetapi juga sebagai ajakan untuk menata kembali arah hidup, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.
Dengan menjadikan awal tahun 2026 sebagai titik tolak perbaikan diri, diharapkan umat Islam mampu melangkah ke depan dengan hati yang lebih bersih, amal yang lebih baik, dan ketakwaan yang semakin kokoh.
Nah, berikut adalah rekomendasi naskah khutbah Jumat yang bisa dibawakan pada kegiatan shalat Jumat, 2 Januari 2026 :
KHUTBAH PERTAMA
Pembukaan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Wasiat Taqwa
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita telah memasuki awal tahun 2026 Masehi. Pergantian tahun sejatinya bukan hanya peralihan angka dalam kalender, tetapi juga peringatan tentang berlalunya waktu yang Allah berikan kepada kita. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap usia yang berkurang akan dimintai pertanggungjawaban.
Setiap hari kita diberi kesehatan, kelapangan, kebaikan, dan kehidupan. Lalu apakah kita sudah melakukan segala perintah-Nya selama ini, atau justru kita malah rutin melakukan apa-apa yang telah dilarang oleh Allah SWT.
Dalam kesempatan ini, khatib berpesan kepada diri khatib sendiri, dan kepada seluruh jamaah sekalian agar selalu berusaha meningkatkan rasa takwa dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa adalah kata kunci bagaimana kita menempatkan diri sebagai hamba, dan begitulah sepantasnya kita sebagai makhluk ciptaan yang akan selalu menjadi entitas paling rendah di mata Allah SWT.
Allah SWT telah melarang kita untuk mendekati Zina. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا. Dan janganlah di antara kita sekalian mendekati zina. Maka dengan demikian kita harus menjauhi perkara zina, mendekati pun dilarang apalagi melakukannya.
Kemudian, Allah juga sudah melarang kita untuk meminum khamr atau minuman keras yang memabukkan. Maka jika kita merasa sebagai hamba yang bertakwa hendaknya tidak mengonsumsi minuman keras. Hal ini telah disampaikan Allah SWT dalam Quran surat Al Maidah ayat 90 ;
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Yang artinya ; Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.
Dengan demikian, setidaknya kita harus selalu menjadi orang yang beriman atas kebenaran-Nya, dan bertakwa karena kita merupakan hamba-Nya. Ini adalah poin penting yang ingin khatib utarakan dalam kesempatan di mimbar jumat hari ini.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَالْعَصْرِۙ
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa waktu adalah amanah, dan kerugian menanti siapa saja yang menyia-nyiakannya. Oleh karena itu, awal tahun menjadi momentum penting untuk melakukan muhasabah, menghitung kembali amal perbuatan kita selama tahun-tahun sebelumnya.
Rasulullah SAW bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
Artinya:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
Jamaah rahimakumullah,
Menyambut tahun baru bukan berarti meniru tradisi yang bertentangan dengan syariat, tetapi mengisinya dengan niat yang baik, amal yang lebih baik, dan tekad untuk memperbaiki diri. Tahun yang baru seharusnya menjadikan kita lebih rajin beribadah, lebih jujur dalam bekerja, lebih santun dalam bermasyarakat, dan lebih peduli terhadap sesama.
Mari kita jadikan tahun 2026 sebagai tahun peningkatan iman dan takwa, penguatan akhlak, serta pengabdian yang lebih nyata kepada keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Doa penutup khutbah pertama
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
Pembukaan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sekali lagi marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Karena aspek yang dilihat oleh Allah SWT adalah seberapa besar kita bertakwa kepada-Nya.
Bertakwa adalah melakukan dan menjalankan segala perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya. Maka mari kita senantiasa bertakwa dan meningkatkan ketakwaan kita dengan kesadaran bahwa kita butuh takwa kepada-Nya, bukan Allah yang butuh ketakwaan kita.
Marilah selalu mengucapkan kalimat muaddzhomah seperti takbir, tahmid, tahlil, dan istighfar setiap saat sebagai bentuk upaya pendekatan batin kita kepada Sang Khaliq.
Doa penutup khutbah kedua
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ سَنَتَنَا هٰذِهِ سَنَةَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ، وَسَلَامٍ وَأَمْنٍ وَإِيْمَانٍ، وَابْعِدْ عَنَّا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَفِتْنَةٍ وَبَلَاءٍ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
عِبَادَ اللّٰهِ،
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

