HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan masyarakat tak perlu khawatir soal kasus influenza A varian H3N2 subclade K atau super flu. Budi bilang super flu seperti flu biasa dan tak mematikan.
Menurut dia, super flu sudah ada sejak lama karena seperti flu biasa. Budi menyebut super flu tak mematikan seperti varian COVID-19 atau tuberkulosis (TBC).
“Jadi, nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa. Influenza H3N2,” kata Budi di Jakarta, Jumat, (2/1/2025).
Budi menuturkan seperti flu biasa yang membuat penyakit itu bisa kembali menjangkiti tubuh manusia. Dijelaskan dia, setiap musim dingin, kasus flu selalu naik di negara yang memiliki empat musim.
Meski demikian, kata dia, negara empat musim itu biasanya memiliki vaksin influenza. Dia membandingkan dengan negara tropis seperti Indonesia, maka kasus influenza tak terlalu tinggi kenaikannya.
“Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan,” jelas Budi.
Namun, Budi mengingatkan agar masyarakat tetap menjaga kesehatan sehingga membentuk imunitas yang bagus.
“Kalau immune sistem kita bagus, itu kita bisa mengatasi sendiri tubuh kita karunia Tuhan ini luar biasa. Ini udah ada tentaranya sendiri yang ngelawan virus-virus itu,” tutur Budi.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyampaikan vaksin flu yang ada di Tanah Air saat ini efektif mengurangi risiko sakit berat, rawat inap imbas kasus super flu.
Juru Bicara Kemenkes, Widyawati mengatakan dari penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan situasi epidemiologi, subclade K atau super flu tak menunjukkan peningkatan keparahan. Hal itu jika dibandingkan dengan klade atau subklade lainnya.
“Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan,” kata Widyawati, dalam keterangannya, Kamis, (1/1/2025).
Meski demikian, ia menekankan pemerintah akan terus memonitor terkait kemungkinan adanya laporan tambahan kasus di Tanah Air.
Pun, ia menyertakan data sampai per Desember 2025, setidaknya ada 62 kasus yang tersebar di 8 provinsi.
Widyawati menuturkan semua varian yang ditemukan sudah diketahui dan bersirkulasi secara global. Varian itu juga sudah terpantau dalam sistem surveilans WHO.

