HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wali Kota New York yang baru, Zohran Mamdani, menggunakan pidato perdananya untuk menegaskan visi kota sebagai ruang bersama yang dibentuk oleh keberagaman bahasa, keyakinan, dan latar belakang warganya. Tokoh demokrat sosialis yang dikenal kritis terhadap Israel itu menampilkan narasi persatuan di tengah dinamika politik identitas yang kerap memecah kota tersebut.
“Para penulis kisah kota ini akan berbicara dalam bahasa Pashto dan Mandarin, Yiddish dan Kreol,” ujar Mamdani, dikutip Holopis.com, Jum’at (2/1).
“Mereka akan beribadah di masjid, sinagoge, gereja, gurdwara, mandir, dan kuil, dan banyak pula yang tidak beribadah sama sekali,” lanjutnya.
Dalam pidato itu, Mamdani juga menyinggung komunitas Yahudi imigran asal Rusia di kawasan Brighton Beach, serta kelompok imigran lain yang datang ke Amerika Serikat dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Ia mengaitkan hal tersebut dengan pengalaman pribadinya yang tumbuh besar dalam lingkungan yang kental dengan budaya Yahudi.
“Di mana lagi seorang anak Muslim seperti saya bisa tumbuh besar sambil makan bagel dan lox setiap Minggu,” ujarnya,
Sorakan semakin menguat ketika Mamdani menyapa warga Palestina New York, khususnya yang bermukim di Bay Ridge. Ia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, mereka tidak lagi harus menghadapi politik yang berbicara soal universalitas, tetapi pada praktiknya justru mengecualikan mereka.
Sebagai informasi, Zohran Mamdani sebelumnya sempat menuai kontroversi sepanjang pemilihan pendahuluan Partai Demokrat. Ia mendapat kritik keras setelah membela slogan ‘globalize the intifada’ yang digunakan sebagian demonstran pro-Palestina dan dipersepsikan banyak pihak sebagai seruan kekerasan terhadap komunitas Yahudi.

