Disiplin Kesadaran Dinilai Kunci Ketahanan Manusia di Tengah Gelombang AI

AI boleh mempercepat dunia, tetapi hanya disiplin kesadaran yang mampu menjaga manusia tetap utuh di dalamnya.

57 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal, menilai perubahan besar yang dipicu oleh kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital menuntut manusia tidak hanya beradaptasi secara teknis, tetapi juga membangun ketahanan batin yang kuat. Menurutnya, transformasi diri yang sejati tidak lahir dari motivasi sesaat, melainkan dari disiplin kesadaran yang dijalankan secara konsisten.

Syam menjelaskan bahwa kecepatan perubahan yang masif telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari dunia kerja, relasi sosial, hingga cara manusia memaknai dirinya sendiri. Namun ia mengingatkan, tanpa fondasi batin yang kokoh, percepatan tersebut justru dapat memicu kepanikan dan kehilangan arah hidup.

- Advertisement -

“Transformasi diri yang sejati tidak pernah lahir dari motivasi sesaat, melainkan dari disiplin kesadaran yang dibangun secara konsisten,” kata Syam dalam refleksi Restorasi Jiwa yang disampaikan kepada Holopis.com pada Kamis (1/1/2026).

Dalam pandangan Restorasi Jiwa, disiplin kesadaran disebut Syam sebagai fondasi batin yang menjaga stabilitas manusia di tengah ketidakpastian. Ia menilai tantangan utama di era AI bukan semata memperbarui keterampilan teknis, tetapi membangun ketahanan batin agar manusia tetap adaptif tanpa kehilangan pusat dirinya.

- Advertisement -

Syam menekankan bahwa disiplin tidak identik dengan kekakuan atau tekanan berlebihan. Sebaliknya, disiplin dipahami sebagai wujud kepedulian dan cinta pada diri sendiri untuk menjaga kesehatan sistem hidup secara menyeluruh.

“Disiplin dipandang sebagai bentuk cinta pada diri—cara sadar untuk menjaga kesehatan sistem hidup secara menyeluruh,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun AI mampu mempercepat hampir seluruh aspek kehidupan, hanya disiplin kesadaran yang mampu menjaga keutuhan manusia secara fisik, mental, emosional, relasional, dan spiritual.

“AI boleh mempercepat dunia, tetapi hanya disiplin kesadaran yang mampu menjaga manusia tetap utuh di dalamnya,” tegas Syam.

Syam juga menggarisbawahi pentingnya membangun jeda sebelum bereaksi sebagai langkah awal disiplin kesadaran. Menurutnya, banyak konflik dan keputusan keliru lahir dari respons spontan yang tidak jernih.

“Dengan menarik napas, merasakan tubuh, dan memberi jarak sekitar sepuluh detik sebelum merespons, seseorang sedang melatih kepemimpinan atas dirinya sendiri,” katanya.

Selain itu, ia mendorong praktik audit energi harian sebagai cara sederhana untuk membangun keselarasan hidup. Evaluasi terhadap hal-hal yang menguatkan dan menguras energi dinilai dapat membantu seseorang membangun stabilitas batin secara bertahap.

Dalam penggunaan teknologi, Syam menilai manusia perlu mengubah posisi relasi dengan perangkat digital dan AI. Ia mengingatkan bahwa ketika notifikasi dan algoritma mengendalikan fokus hidup, jiwa perlahan kehilangan kedaulatannya.

“Dengan menjadwalkan waktu khusus untuk teknologi—bukan hidup mengikuti iramanya—manusia mengembalikan posisi alat sebagai pelayan, bukan pengendali,” ujarnya.

Syam juga menekankan pentingnya menghidupkan nilai melalui tindakan kecil yang konsisten. Menurutnya, nilai bukan sekadar slogan, melainkan perilaku nyata yang diulang dalam keseharian.

Mengakhiri pandangannya, Syam menegaskan bahwa ketahanan manusia di tengah gelombang perubahan tidak ditentukan oleh kecanggihan alat, melainkan oleh stabilitas sistem batin yang dimiliki.

“Manusia yang tahan terhadap gelombang perubahan bukanlah mereka yang memiliki alat paling canggih, melainkan mereka yang memiliki sistem batin paling stabil,” pungkasnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
57 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis