HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kembang api hampir selalu hadir dalam perayaan malam Tahun Baru di berbagai belahan dunia. Dentuman, cahaya warna-warni, dan langit yang terang menjadi simbol pergantian waktu yang dinanti banyak orang. Namun, tradisi ini tidak muncul begitu saja, melainkan berakar dari sejarah panjang ribuan tahun lalu.
Di balik perayaan modern yang meriah, kembang api bermula dari kepercayaan kuno dan praktik budaya yang sangat berbeda dari hiburan semata.
1. Awal Mula dari Tiongkok Kuno
Sejarah mencatat bahwa kembang api pertama kali berkembang di Tiongkok sekitar abad ke-7. Awalnya, masyarakat setempat membakar batang bambu yang menghasilkan suara letupan keras. Bunyi tersebut dipercaya mampu mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan di awal tahun.
Penemuan bubuk mesiu kemudian mengubah tradisi tersebut. Bubuk mesiu dimasukkan ke dalam tabung bambu atau kertas, menghasilkan ledakan cahaya yang menjadi cikal bakal kembang api seperti dikenal sekarang.
2. Makna Simbolik dalam Perayaan Tahun Baru
Dalam kepercayaan tradisional Tiongkok, suara keras dan cahaya terang diyakini membersihkan energi buruk dari tahun sebelumnya. Itulah sebabnya kembang api sering dinyalakan saat pergantian tahun, bukan hanya untuk hiburan, tetapi sebagai simbol perlindungan dan harapan.
Tradisi ini lalu menyebar ke wilayah Asia lainnya sebelum akhirnya dikenal di Eropa melalui jalur perdagangan.
3. Masuk ke Eropa dan Dunia Barat
Pada abad pertengahan, bubuk mesiu mulai dikenal di Eropa. Kembang api kemudian digunakan dalam perayaan kerajaan, pesta kemenangan, dan acara keagamaan. Lambat laun, tradisi tersebut bergeser menjadi bagian dari perayaan publik.
Di banyak negara Barat, kembang api akhirnya diasosiasikan dengan momen besar seperti malam Tahun Baru karena dianggap mampu menciptakan kesan spektakuler pada awal pergantian waktu.
4. Dari Ritual ke Hiburan Massal
Memasuki era modern, makna spiritual kembang api mulai bergeser. Kembang api lebih dipandang sebagai hiburan visual dan simbol perayaan kolektif. Kota-kota besar dunia menjadikan pesta kembang api sebagai daya tarik utama malam 31 Desember.
Meski maknanya berubah, simbolismenya tetap sama. Kembang api menandai berakhirnya satu fase dan dimulainya fase baru, sebuah jeda singkat untuk merayakan harapan.


