Syam Basrijal : AI Tak Bisa Hadirkan Empati

Di era AI, manusia yang benar-benar mampu hadir justru menjadi semakin langka—dan karena itu semakin bernilai.

84 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal mengatakan bahwa kemajuan teknologi informasi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sudah menjadi candu bagi masyarakat modern seperti saat ini. Namun ada aspek yang sering dianulir oleh para pengguna teknologi tersebut, yakni menaruh semua tentang diri mereka terhadap kinerja AI.

Hal ini disampaikan Syam karena melihat fenomena penggunaan AI yang semakin masif, bahkan menyentuh ke aspek-aspek fundamental, seperti mempengaruhi diri sendiri atau orang lain dengan rekayasa digital.

- Advertisement -

“Di tengah kemajuan kecerdasan buatan yang semakin canggih, manusia dihadapkan pada satu kenyataan yang tak tergantikan oleh teknologi apa pun, kehadiran yang tulus,” kata Syam Basrijal dalam keterangannya kepada Holopis.com, Rabu (31/12/2025).

Ia memahami bahwa kecerdasan buatan yang diterapkan saat ini sudah sangat kompleks. Teknologi tersebut mampu merekam semua ucapan, bahasa, perilaku, hingga pola pikir manusia dengan sangat baik. Semua informasi tersebut dijadikan data-data yang diolah untuk membantu kebutuhan manusia, yakni para penggunanya.

- Advertisement -

Namun yang patut menjadi catatan penting adalah, AI sama sekali tidak bisa menghadirkan perasaan yang nyata, bagaimana timbal balik emosi yang seharusnya bisa terjadi secara natural. Sebab AI hanya akan mentransformasikan data berdasarkan reaksi dan interaksi yang disampaikan manusia kepada mesin kecerdasan buatan.

Padahal kata Syam, dalam kerangka Restorasi Jiwa, justru di ruang-ruang perasaan, seperti rasa takut, perasaan sedih karena luka hati, rasa bahagia inilah sebenarnya transformasi manusia berlangsung di dalam relasi.

“AI dapat meniru bahasa empatik, menyusun kalimat penghiburan, bahkan merespons emosi secara teknis. Namun, ia tidak pernah memikul luka, tidak merasakan getar ketakutan, dan tidak mengalami duka yang mengubah cara seseorang memandang hidup,” tuturnya.

Diterangkan Syam Basijal, bahwa banyak orang sebenarnya mendambakan hidup yang lebih baik, lebih mapan, dan lebih tenang. Namun sering kali terlupa bahwa kualitas hidup tidak semata ditentukan oleh pencapaian materi atau efisiensi kerja, melainkan oleh kualitas relasi.

Relasi yang sehat bukan hanya soal komunikasi yang efektif, melainkan tentang terciptanya ruang aman—tempat seseorang dapat menjadi dirinya sendiri, didengar tanpa dihakimi, dan dipahami tanpa disederhanakan.

“Di titik ini, empati bukan lagi sekadar keterampilan sosial, melainkan wujud kesadaran yang hidup,” terang Syam.

Oleh sebab itu, ia merasa penting untuk menyampaikan aspek fundamental ini karena ada fenomena orang lebih mengutamakan aspek eksternal seperti kemajuan dan perkembangan teknologi sementara abai terhadap relasi yang humanis dan natural antar manusia.

“Kesadaran holistik mengajarkan bahwa empati sejati tidak dimulai dari luar, tetapi dari dalam. Seseorang yang terputus dari emosinya sendiri, terbiasa menjadikan logika sebagai perisai, dan menekan rasa demi terlihat kuat, akan kesulitan untuk benar-benar hadir bagi orang lain,” tandasnya.

Empati Tak Bisa Diakomodir oleh AI

Artificial Intelligence hanya akan mentransformasikan data kepada penggunanya dengan bahasa dan cara yang biasa dilakukan manusia pada umumnya. Namun ia tidak bisa menghadirkan empati di dalamnya, sebab ia merupakan mesin yang diprogram bukan untuk memberikan empati, tapi sekadar informasi. Sayangnya, ta sedikit masyarakat yang akhirnya terkikis rasa sense of emphatic karena paparan AI dan penggunaan yang kurang bijak.

Dalam konteks ini, Syam Basrijal mengajak masyarakat untuk kembali mengolah empati dan rasa di dalam hati, sehingga tidak terus terkikis karena pengaruh teknologi yang menghadirkan kekakuan.

“Restorasi Jiwa memandang empati sebagai energi yang mampu menyembuhkan sistem. Kehadiran satu orang yang tulus dapat mengubah iklim emosi dalam keluarga, organisasi, maupun komunitas,” jelas Syam Basrijal.

Karena satu percakapan yang dilakukan dengan penuh kehadiran sering kali cukup untuk memutus rantai salah paham yang telah menumpuk bertahun-tahun. Di sinilah empati bekerja bukan sebagai konsep, melainkan sebagai kekuatan transformasional.

“Di era AI, manusia yang benar-benar mampu hadir justru menjadi semakin langka—dan karena itu semakin bernilai. Empati sejati bukan tentang berkata-kata manis, melainkan tentang keberanian untuk menemani manusia lain tanpa tergesa-gesa memperbaikinya. Dari kehadiran semacam inilah relasi menjadi jalan pulang: pulang ke diri sendiri, dan pulang ke sesama, sebagai manusia yang utuh,” pungkasnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
84 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru