HOLOPIS.COM, JAKARTA – Banyak orang menganggap 1 Januari sebagai awal tahun sejak dulu. Padahal, penetapan tanggal tersebut baru menjadi kesepakatan global setelah kalender Gregorian digunakan secara luas. Sebelum itu, tiap peradaban punya cara sendiri menentukan pergantian tahun.
Perbedaan latar budaya, agama, dan sistem kalender membuat makna Tahun Baru berkembang sangat beragam di setiap negara.
1. Dari Romawi, Tiongkok, hingga Timur Tengah
Di Romawi kuno, Tahun Baru sempat dirayakan pada bulan Maret, bertepatan dengan awal musim semi dan masa tanam. Perubahan ke 1 Januari terjadi setelah Julius Caesar mereformasi kalender pada 46 SM, sekaligus menamai bulan Januari dari Janus, dewa bermuka dua yang melambangkan masa lalu dan masa depan.
Sementara itu, Tiongkok tidak mengikuti kalender matahari. Tahun Baru Imlek dirayakan berdasarkan kalender lunar, biasanya jatuh antara akhir Januari hingga Februari. Tradisi ini dipenuhi simbol keberuntungan, warna merah, dan ritual mengusir energi buruk.
Di Timur Tengah, beberapa negara menggunakan kalender Hijriah. Tahun Baru Islam tidak dirayakan dengan pesta, melainkan refleksi spiritual. Tanggalnya pun selalu berubah setiap tahun karena mengikuti peredaran bulan.
2. Eropa, Asia Selatan, hingga Afrika
Di Skotlandia, perayaan Hogmanay justru lebih besar dibanding Natal. Tradisi first-footing dipercaya membawa keberuntungan, yakni orang pertama yang memasuki rumah setelah tengah malam.
India memiliki banyak Tahun Baru berbeda, tergantung wilayah dan kalender lokal. Di Kerala, Tahun Baru Vishu dirayakan pada April. Di Bengal, Pohela Boishakh menandai awal tahun dengan festival budaya.
Sementara di Ethiopia, Tahun Baru Enkutatash jatuh pada September, menandai berakhirnya musim hujan. Perayaan dilakukan dengan nyanyian, bunga, dan kebersamaan keluarga.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa Tahun Baru bukan sekadar soal tanggal, melainkan cerminan cara setiap masyarakat memaknai waktu, perubahan, dan harapan.

