Era AI : Founder Restorasi Jiwa Tekankan Disiplin Kesadaran

40 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI), Syam Basrijal, menilai bahwa derasnya arus perubahan akibat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi digital menuntut manusia untuk tidak hanya beradaptasi secara teknis, tetapi juga membangun ketahanan batin melalui disiplin kesadaran.

Syam menyampaikan bahwa transformasi diri yang sejati tidak dapat bertumpu pada motivasi sesaat, melainkan pada kesadaran yang dilatih secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

- Advertisement -

“Transformasi diri yang sejati tidak pernah lahir dari motivasi sesaat, melainkan dari disiplin kesadaran yang dibangun secara konsisten,” kata Syam dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (31/12/2025).

Menurutnya, perubahan yang berlangsung cepat di era AI telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari dunia kerja, relasi sosial, hingga cara individu memaknai dirinya sendiri. Tanpa fondasi batin yang kuat, kecepatan perubahan justru berpotensi menimbulkan kepanikan dan reaktivitas berlebihan.

- Advertisement -

“Tanpa fondasi ini, kecepatan perubahan justru memicu kepanikan, reaktivitas, dan kehilangan pusat diri,” ujarnya.

Dalam perspektif Restorasi Jiwa Indonesia, disiplin kesadaran dipandang sebagai fondasi batin yang menjaga stabilitas manusia di tengah ketidakpastian. Syam menegaskan bahwa disiplin tidak dimaknai sebagai kekakuan, melainkan sebagai bentuk kepedulian dan cinta terhadap diri sendiri.

“Disiplin dipandang sebagai bentuk cinta pada diri—cara sadar untuk menjaga kesehatan sistem hidup secara menyeluruh,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perawatan tubuh, penataan pikiran, pengelolaan emosi, pemeliharaan relasi, hingga spiritualitas yang membumi merupakan bagian dari disiplin kesadaran. Di tengah laju teknologi yang kian cepat, hal tersebut dinilai menjadi penyangga keutuhan manusia.

“AI boleh mempercepat dunia, tetapi hanya disiplin kesadaran yang mampu menjaga manusia tetap utuh di dalamnya,” tegas Syam.

Syam juga menyoroti pentingnya membangun jeda sebelum bereaksi dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai banyak konflik dan keputusan keliru berawal dari respons spontan yang tidak disertai kejernihan.

“Dengan menarik napas, merasakan tubuh, dan memberi jarak sekitar sepuluh detik sebelum merespons, seseorang sedang melatih kepemimpinan atas dirinya sendiri,” katanya.

Selain itu, ia mendorong praktik audit energi harian sebagai langkah sederhana namun berdampak besar dalam membangun stabilitas batin.

“Pertanyaan sederhana seperti ‘Apa yang menguatkan saya hari ini?’ dan ‘Apa yang menguras energi saya?’ dapat membuka kesadaran baru,” ujar Syam.

Dalam konteks penggunaan teknologi, Syam mengingatkan bahwa perangkat digital dan AI seharusnya tetap menjadi alat, bukan pengendali ritme hidup manusia.

“Ketika notifikasi menentukan fokus, dan algoritma menentukan perhatian, jiwa perlahan kehilangan kedaulatannya,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa penguatan nilai hidup hanya dapat dilakukan melalui tindakan konkret yang dilakukan secara konsisten, bukan sekadar pernyataan normatif.

“Nilai bukan slogan atau pernyataan ideal, melainkan perilaku yang diulang setiap hari,” ucap Syam.

Menutup pernyataannya, Syam menyebut bahwa ketahanan manusia menghadapi gelombang perubahan tidak ditentukan oleh kecanggihan alat, melainkan oleh stabilitas sistem batin yang dimiliki.

“Ketika pusat diri ditemukan dan dijaga, teknologi apa pun—termasuk kecerdasan buatan—akan menjadi sekutu yang memperkuat, bukan ancaman yang melemahkan,” pungkasnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
40 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis