BI Optimistis Ekonomi RI Menguat di Akhir 2025

32 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tren perbaikan pada triwulan IV 2025, seiring dengan penguatan konsumsi rumah tangga, serta realisasi investasi yang mulai bergerak positif, terutama pada sektor nonbangunan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, perbaikan konsumsi rumah tangga didukung oleh realisasi belanja sosial pemerintah serta meningkatnya keyakinan masyarakat terhadap kondisi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja, yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi di level ritel.

- Advertisement -Hosting Terbaik

“Perkembangan ini mendorong meningkatnya penjualan eceran pada berbagai kelompok barang,” kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Desember 2025 di Jakarta, Rabu (17/12/2025) dikutip Holopis.com.

Dari sisi investasi, Perry menuturkan bahwa realisasi investasi, khususnya sektor nonbangunan, turut membaik. Peningkatan ini tercermin dari keyakinan pelaku usaha yang semakin solid, sejalan dengan pola ekspansi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur.

- Advertisement -

Secara sektoral, kinerja positif terlihat pada Lapangan Usaha (LU) industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, serta penyediaan akomodasi dan makan minum.

Namun demikian, BI menilai penguatan permintaan domestik tetap perlu menjadi perhatian utama, mengingat kinerja ekspor diperkirakan melambat.

Perry mengungkapkan, perlambatan ekspor dipengaruhi oleh berakhirnya frontloading ekspor ke Amerika Serikat, serta melemahnya permintaan dari Tiongkok dan India.

Oleh karena itu, penguatan konsumsi dan investasi domestik dinilai krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Secara keseluruhan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 4,7–5,5 persen. Momentum pertumbuhan tersebut diperkirakan berlanjut dan meningkat menjadi 4,9–5,7 persen pada 2026.

Perry menegaskan, prospek positif tersebut turut didukung oleh stabilitas harga di dalam negeri yang tetap terjaga.

Dari sisi inflasi, BI mencatat inflasi kelompok administered prices tetap rendah di level 1,58 persen (year on year). Namun, inflasi kelompok volatile food masih relatif tinggi, yakni sebesar 5,48 persen (yoy).

Menurut Perry, tekanan tersebut terutama berasal dari komoditas bawang merah akibat keterbatasan pasokan yang dipicu gangguan cuaca serta kenaikan harga benih.

Meski demikian, BI optimistis inflasi volatile food dapat dikendalikan melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

Sementara itu, inflasi inti diperkirakan tetap rendah seiring terjaganya ekspektasi inflasi, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali, serta dampak positif digitalisasi.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi (secara keseluruhan) pada tahun 2026 mendatang tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen,” tandas Perry.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
32 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis