HOLOPIS.COM, BOGOR – Jawa Barat memancarkan magnet wisata yang tak tertandingi sepanjang tahun 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru menunjukkan ledakan luar biasa, mencatat total 175,57 juta perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) dari Januari hingga Oktober 2025. Angka ini melonjak tajam 28,73 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Fenomena ini bukan sekadar peningkatan, melainkan sebuah pernyataan bahwa “liburan dekat rumah” kian menjadi primadona, bahkan pada Bulan Oktober saja tercatat 17,04 juta perjalanan.
Dalam peta persaingan destinasi, Kabupaten Bogor tampil sebagai juara tak terbantahkan, merebut posisi puncak dengan total 26,07 juta perjalanan. Destinasi yang menjadi tumpuan tetaplah yang beraroma alam dan petualangan.
Beberapa tempat favorit yang paling banyak dikunjungi wisatawan termasuk Kebun Teh Puncak yang ikonik, Taman Safari yang menawarkan edukasi dan hiburan keluarga, Curug Cilember yang menawarkan keindahan air terjun alami, serta HeHa Waterfall yang menjadi destinasi baru yang viral.
Kenaikan signifikan ini membuktikan bahwa pesona alam Bogor, dari udara sejuk hingga safari keluarga, tetap menjadi daya tarik utama bagi pelancong domestik.
Mengekor di belakangnya, Kota Bandung berada di posisi kedua (19,84 juta perjalanan), diikuti Kota Bekasi (11,92 juta), Kabupaten Bandung (11,86 juta), Kabupaten Bekasi (11,03 juta), dan Kota Depok (10,07 juta). Data ini menggarisbawahi kekuatan kawasan metropolitan Jakarta-Bandung Raya sebagai pusat aktivitas wisata.
Di sektor wisatawan mancanegara (WNA), Kereta Cepat Whoosh mulai menjadi pintu masuk yang signifikan ke Jawa Barat. Meskipun jumlah kunjungan WNA di bulan Oktober 2025 (16.431 kunjungan) sedikit menurun 17,30 persen dibandingkan September 2025 (19.867 kunjungan), perannya sebagai konektor internasional tak bisa diabaikan.
Secara mengejutkan, pelancong dari Singapura mendominasi arus kedatangan ini, menyumbang 30,46 persen dari total kunjungan WNA pada Oktober 2025. Ini memberikan indikasi jelas bahwa Whoosh telah menjadi jalur favorit bagi turis dari Negeri Singa untuk menjelajahi keindahan Tanah Pasundan.
Lonjakan kunjungan wisatawan ini tentu berdampak pada sektor akomodasi. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) gabungan hotel bintang dan non-bintang mencapai 38,90 persen di Oktober 2025, naik 2,57 poin.
Namun, bagian paling unik dari data ini datang dari hotel berbintang. Bukan Bandung atau Bogor, melainkan Kabupaten Purwakarta yang berhasil mencatatkan TPK tertinggi dengan angka fantastis 65,44 persen! Ini bisa jadi menandakan adanya peningkatan signifikan dalam perjalanan bisnis atau popularitas acara/wisata tertentu di Purwakarta.
Sementara itu, untuk hotel non-bintang, Kota Bandung masih memimpin dengan TPK 39,26 persen, menunjukkan bahwa hotel budget dan penginapan murah masih sangat diminati di ibu kota provinsi tersebut.


