Waspada HIV pada Anak, Begini Cara Mencegah Penularannya Sejak Dini

12 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – HIV bukan lagi isu yang hanya menimpa orang dewasa. Human Immunodeficiency Virus dapat menjangkit siapa saja, termasuk anak-anak, baik melalui proses kelahiran, pemberian ASI, transfusi darah, hingga penggunaan alat medis yang tidak steril.

Risiko ini nyata dialami oleh anak-anak di bawah. Dan ironisnya, hal ini sering kali terjadi tanpa disadari oleh para orang tua.

- Advertisement -Hosting Terbaik

HIV sendiri menyerang sistem kekebalan tubuh, membuat penderitanya rentan terhadap berbagai penyakit lain. Ketika virus ini menguasai sel-sel pelindung, tubuh kehilangan tamengnya, dan pada anak-anak, dampaknya bisa lebih fatal karena sistem imun mereka belum terbentuk sempurna.

Meski selama ini HIV kerap diasosiasikan dengan aktivitas seksual, faktanya jalur penularannya jauh lebih luas. Transmisi vertikal dari ibu ke anak adalah salah satu penyebab utama infeksi HIV pada anak.

- Advertisement -

Karena itu, pemeriksaan kesehatan bagi calon ibu menjadi langkah krusial untuk mencegah risiko penularan sejak sebelum kelahiran.

Anak-Anak Tetap Rentan Tertular

Dikutip dari alodokter.com, Mayoritas kasus HIV pada anak bukan berasal dari perilaku mereka sendiri. Anak-anak berada dalam pengawasan orang tua, sehingga faktor eksternal, mulai dari proses persalinan hingga tindakan medis menjadi penyebab utama.

Di sinilah peran orang tua diuji, dimana kehati-hatian, edukasi, dan pemahaman terhadap risiko menjadi benteng pertama perlindungan bagi anak.

Tanggung jawab ini bukan hanya milik ibu. Ayah juga memegang peran penting dalam menjaga kesehatan keluarga. Penularan dalam hubungan suami istri dapat berdampak pada bayi melalui proses kehamilan dan menyusui.

Artinya, pencegahan HIV harus dimulai dari kedua orang tua, sejak sebelum seorang anak hadir ke dunia.

Risiko Mengintai di Usia Remaja

Tantangan tidak berhenti saat anak tumbuh. Memasuki masa ABG, rasa ingin tahu meningkat, masa pubertas mulai berjalan, dan hubungan pertemanan semakin kompleks.

Pada fase ini, anak harus dibekali pemahaman yang benar tentang kehidupan seksual, dan risiko yang menyertainya, termasuk risiko terjangkit penyakit menular seperti HIV.

Perilaku seksual berisiko dan pergaulan bebas bukan hanya membuka peluang penularan HIV, tetapi juga masalah lain seperti kehamilan di luar nikah, risiko yang secara sosial dan biologis lebih banyak berdampak pada remaja perempuan.

Selain itu, penyalahgunaan narkoba juga menjadi pintu masuk lain penularan HIV. Penggunaan jarum suntik secara bergantian adalah salah satu faktor penularan paling cepat. Tanpa edukasi yang tepat, remaja bisa terjebak dalam situasi berbahaya ini.

Dukungan untuk Anak Terinfeksi HIV

Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan melalui ayosehat.kemkes.go.id, anak dengan HIV tetap dapat tumbuh sehat selama mendapatkan terapi yang tepat serta dukungan emosional dari orang tua.

Kehadiran keluarga bukan hanya membantu proses pengobatan, tetapi juga memberi kekuatan mental untuk menjalani hidup.

Ini menjadi pengingat bahwa HIV bukan akhir segalanya. Namun, mengabaikan gejalanya atau tidak memberikan perawatan justru bisa memperburuk kondisi anak dalam jangka panjang.

HIV pada anak bisa dicegah. Mulai dari pemeriksaan kesehatan pra-kehamilan, menjaga perilaku aman dalam rumah tangga, memastikan tindakan medis memakai alat steril, hingga memberikan edukasi yang tepat kepada remaja.

Mencegah jauh lebih mudah daripada mengobati, tetapi mengobati tetap jauh lebih baik daripada membiarkan. Dalam isu HIV, kesadaran dan pengetahuan adalah senjata utama.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
12 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis