Potret Pilu Anak-Anak Gaza yang Dipaksa Menjadi Tulang Punggung Keluarga
HOLOPIS.COM, JAKARTA - Tak bisa dipungkiri bahwa mereka yang paling terkena dampak perang, bukanlah para pemimpin, namun para masyarakat kecil seperti para masyarakat terutama anak-anak di Gaza. Seperti seorang anak bernama Mahmoud Abu Awda (11), yang harus menyusuri jalan berlumpur di Gaza seusai hujan musim dingin.
Sepatu tuanya tenggelam dalam genangan, sementara tangannya menggenggam kotak plastik berisi biskuit, makanan kaleng, dan cokelat barang-barang sederhana yang ia jual demi membantu keluarganya bertahan hidup sejak kehilangan ayahnya hampir dua tahun lalu.
Sebelum perang meletus, Mahmoud menikmati kehidupan yang jauh lebih stabil. Ia bangun setiap pagi mendengar ayahnya bersiap ke bengkel kayu di daerah Zeitoun.
“Dulu saya pergi ke sekolah setiap hari,” katanya kepada media, dikutip Holopis.com, Senin (1/12).
Ia mengingat pelajaran matematika dan tawa teman-temannya sebagai bagian dari rutinitas yang kini terasa sangat jauh.
Segalanya berubah setelah serangan besar Israel pada 7 Oktober 2023. Otoritas kesehatan Gaza mencatat lebih dari 70.000 warga Palestina tewas, termasuk sedikitnya 20.000 anak. Ayah Mahmoud menjadi salah satu korban. Sejak itu, ia menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi ibu dan adik-adiknya.
“Kadang saya bisa menjual, kadang tidak. Tapi tidak ada pilihan lain,” ujarnya.
Kisah Mahmoud hanyalah satu potret kecil dari penderitaan anak-anak di Gaza. Di Khan Younis, Yasmin Khader (13) memanjat tumpukan sampah di dekat kamp pengungsian untuk mengumpulkan plastik bersama anak-anak lain.
“Ayah saya ingin saya menjadi dokter, tetapi dia terbunuh,” tuturnya.
Setiap hari ia membawa tas putih, berharap plastik yang terkumpul cukup untuk membeli roti. Ia mengenang masa ketika ia bangga memakai pakaian bersih dan parfum, hal yang kini tampak mustahil di tengah krisis.
Lalu di Gaza, Abbas al-Ghazali (13) berkeliling sejak fajar untuk berjualan air.
“Saya menjual sebotol seharga 1 shekel, tapi sekarang orang jarang membeli,” ucapnya. Ayah Abbas, yang menderita kanker, tidak lagi bisa berobat akibat blokade dan kurangnya obat-obatan. Meski bekerja sepanjang hari, ia tetap membawa tas sekolah berisi beberapa buku.
“Dulu saya murid berprestasi. Kalau lelah, saya membaca sebentar.”
Otoritas setempat menyebut ribuan anak kini tak memiliki rumah layak maupun ruang aman untuk berkembang. Lebih dari dua tahun gangguan pendidikan dan ribuan sekolah yang hancur membuat angka pekerja anak melonjak. Pasar, pinggir jalan, dan tempat publik berubah menjadi lokasi kerja anak-anak yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah.
Psikolog perkembangan anak di Gaza, Ghadeer Al-Muqayyad, mengatakan banyak anak kini berada dalam kondisi emosional dan fisik yang tidak seharusnya mereka tanggung. Ia memperingatkan bahwa pekerja anak memperbesar risiko paparan kekerasan, bahaya lingkungan, serta trauma berkepanjangan. Menurutnya, stres dan kehilangan yang dialami dapat memicu gangguan kecemasan, perilaku bermasalah, hingga penarikan diri secara emosional.
Ia menegaskan bahwa memulihkan pendidikan dan menyediakan ruang belajar yang aman merupakan langkah penting untuk mengurangi dampak konflik terhadap generasi muda Gaza.