HOLOPIS.COM, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi resmi melepas ekspor berbagai produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) senilai Rp10,1 miliar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Sabtu (29/11/2025).
Beragam komoditas lokal, mulai dari sarang burung walet, ikan pari, keripik udang, kopi, cincau, kapulaga, hingga produk pertanian lain, diberangkatkan ke sejumlah negara tujuan.
Seluruh produk tersebut merupakan hasil usaha para petani dan UMKM yang selama ini dibina oleh Balai Karantina Indonesia (Barantin).
Ahmad Luthfi menegaskan, bahwa UMKM memiliki kemampuan penuh untuk menembus pasar global. Menurutnya, ekspor tidak boleh dipersepsikan hanya sebagai ranah perusahaan besar.
“Produk unggulan Jawa Tengah banyak sekali. Jangan berpikir ekspor itu hanya untuk perusahaan besar. UMKM kita boleh dan mampu melakukan ekspor,” tegas Luthfi dikutip Holopis.com dari siaran pers, Senin (1/12/2025).
Ia menambahkan bahwa Pemprov Jateng terus membuka ruang bagi UMKM untuk naik kelas melalui pendampingan karantina dan dukungan lintas instansi.
Beragam komoditas seperti ikan cupang, bawang merah, sarang burung walet, dan produk olahan lain disebut memiliki daya saing kuat di pasar internasional.
“Kita punya banyak komoditas, termasuk ikan cupang, bawang merah, sarang burung walet, ikan, dan lainnya. Semuanya punya daya saing,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Barantin, Sahat menegaskan, bahwa pihaknya kini tidak hanya menjalankan fungsi sertifikasi, tetapi juga aktif mendampingi UMKM agar memenuhi standar ekspor.
“Yang kita dorong adalah ekspor UMKM. Banyak komoditas yang tidak bisa dihasilkan negara tujuan, tetapi sangat dibutuhkan di sana dengan syarat tertentu,” jelas Sahat.
Sahat menyampaikan bahwa sepanjang Januari–November 2025, nilai ekspor Jawa Tengah telah mencapai Rp18,2 triliun, dengan total 24.935 sertifikasi karantina.
Angka tersebut mendekati capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp19,5 triliun. Barantin pun menargetkan ekspor Jateng bisa menembus Rp20 triliun pada 2026.
Di sisi lain, stabilitas keamanan dinilai turut memperkuat iklim investasi dan perdagangan. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada Triwulan III 2025 tercatat 5,37 persen (yoy), lebih tinggi dibanding nasional yang berada di level 5,04 persen.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Haris pun turut menyoroti pentingnya mengubah persepsi masyarakat terkait proses ekspor yang dianggap rumit, guna mendorong UMKM menembus pasar global.
“Banyak warga yang ingin ekspor tetapi takut duluan, karena merasa prosesnya ribet. Ini salah persepsi. Karantina dan Bea Cukai harus mendekat ke masyarakat,” tegasnya.


