HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan upaya perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini masih dalam kondisi melambat.
Hal ini disampaikan Purbaya untuk merespons cecaran anggota Komisi XI DPR RI terkait dengan rendahnya penerimaan pajak nasional saat ini, khususnya di bawah kepemimpinan Purbaya sebagai Menteri Keuangan atau bendahara negara saat ini.
“Saya banyak ditegur masalah pajak dan lain-lain seolah-olah keadaan normal. Yang perlu kita ingat adalah kita keadaan gak normal sampai September kemarin, Oktober aja baru mulai balik, belum keluar dari tekanan lho. Ini yang sedang kita perbaiki, jangan di-tone-kan sebagai keadaan normal,” kata Purbaya saat Rapat Kerja Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan, Jumat (28/11/2025).
Ia menegaskan bahwa dirinya bisa saja menarik pajak sebesar-besarnya saat ini. Namun ia memastikan hasilnya justru akan jauh lebih buruk dari sebelumnya. Sebab kondisi ekonomi memang masih dianggap cenderung lesu.
“Keadaan yang masih kita lihat adalah, saya bisa aja naikin tarif di sana-sini sana-sini, tapi hasilnya pasi akan lebih jelek daripada sebelumnya, kenapa, karena ekonomi kita lagi jatuh,” ujarnya.
Hal ini ia sampaikan untuk menjelaskan tentang kebijakan ekonomi counter-cyclical (kontrasiklus). Yakni sebuah kebijakan yang dirancang untuk melawan atau menstabilkan dampak dari siklus bisnis (ekonomi yang naik turun secara alami). Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro, mencegah krisis, dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Kebijakan countra cyclical, kalau lagi jatuh kita bebani lagi akan lebih jatuh lagi. Harusnya malah kita kasih stimulus besar-besaran,” tegas Purbaya.
Untuk saat ini, Kementerian Keuangan tengah fokus untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah memberikan stimulus ekonomi yang akan bersentuhan langsung dengan sektor rill dalam aspek pertimbuhan perekonomian masyarakat.
Bahkan dengan gaya guyonannya, Purbaya menyebut bahwa dua wakilnya yang cenderung sangat berhati-hati untuk menggelontorkan duit. Yakni Suahasil Nazara dan Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono.
“Senior anda ini pelitnya minta ampun. Kita optimalkan yang ada. Jadi kita optimalkan uang yang ada untuk menciptakan perbaikan ekonomi, dan alhamdulillah sekarang sudah mulai terlihat, tapi bukan berarti keadaan sudah normal,” tuturnya.
Kepada para anggota dan pimpinan di Komisi 11 DPR RI tersebut, Purbaya menyatakan bahwa memang sampai dengan saat ini penarikan dan penerimaan pajak masih cenderung kecil bahkan di bawah target. Hanya saja ia mengajak para anggota dewan untuk bersama-sama melihat bagaimana kondisi ekonomi nasional saat ini, sehingga tidak hanya sekadar mencecarnya, akan tetapi ikut memahami dan berpikir realitas dan problem solving.
“Kalau businessman lagi susah dipajakin, ribut pasti kan. Uangnya nggak ada, lha wong lagi rugi. Saya akui pengumpulan pajak masih di bawah target. Tapi kita akan perbaiki ke depan,” tukas Purbaya.
September Oktober Tidak Ideal
Lebih lanjut, mantan Kepala LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) tersebut menyatakan bahwa jangan sampai ada anggota dewan yang berpikir untuk menekan penarikan pajak di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak ideal.
“Sampai September – Oktober masih nggak ideal kondisinya. Apa kita mau teken masyarakat kita, pengusaha kita, kita pasti hancurnya,” tutur Purbaya.
Secara pribadi dan kelembagaan, tentu Kementerian Keuangan ingin sekali mendapatkan penerimaan pajak gede-gedean. Namun demikian pemerintah dan para pemangku kebijakan tentu wajib berpikir realistis.
“Saya juga penginnya pajaknya maksimal. Tapi ketika kita masih memberi stimulus ekonomi, saya belum memberi stimulus besar ya, saya hanya memaksimalkan dan mengoptimalkan uang yang ada supaya ekonomi bisa recover,” lanjutnya.

