HOLOPIS.COM, JAKARTA – Saat berselancar di media sosial, tidak jarang pengguna mendapati video kucing yang sedang berdiam diri, melakukan gerakan lincah namun gagal, atau sekadar menampilkan ekspresi polos.
Niat awal hanya menonton sebentar, namun waktu dapat berlalu begitu cepat tanpa disadari. Fenomena ini tidak hanya dialami oleh satu atau dua orang, melainkan oleh jutaan pengguna di seluruh dunia.
Pertanyaan pun muncul, apa yang membuat konten kucing begitu memikat hingga menimbulkan rasa adiktif? Jawabannya ternyata memiliki dasar ilmiah.
Baby Schema
Dalam kajian psikologi evolusioner, fenomena ini dikenal sebagai baby schema atau kindchenschema. Konsep ini merujuk pada respons biologis manusia ketika melihat makhluk dengan karakteristik menggemaskan, seperti mata besar, tubuh kecil, dan wajah bulat, atribut yang dimiliki bayi, sekaligus dimiliki kucing.
Saat melihat stimulus tersebut, otak memicu respons nurturing, yaitu dorongan untuk merawat dan melindungi. Mekanisme ini merupakan hasil evolusi manusia dalam menjaga kelangsungan hidup keturunannya. Kucing, tanpa disadari, menstimulasi mekanisme yang sama.
Efek Dopamin
Respons biologis tersebut mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan empati dan rasa senang. Aktivasi ini mendorong pelepasan dopamin, yaitu hormon yang menghasilkan perasaan bahagia dan nyaman.
Inilah mengapa menonton video kucing sering kali terasa menenangkan. Konten yang ringan dan lucu memberikan jeda mental yang menyegarkan.
Durasi Pendek dan Kepuasan Instan
Sebagian besar konten kucing disajikan dalam durasi singkat. Otak manusia memiliki kecenderungan menyukai quick reward atau kepuasan instan. Konten yang cepat dan mudah dipahami meningkatkan peluang seseorang untuk terus menonton video berikutnya.
Fenomenanya mirip kebiasaan mengemil: “satu video lagi,” hingga akhirnya puluhan konten berlalu begitu saja.
Perilaku Kucing yang Tak Terduga
Kucing memiliki perilaku yang dinamis dan sulit diprediksi. Satu saat terlihat tenang dan pasif, namun beberapa detik kemudian bisa melompat, berlari, atau memainkan benda di sekitarnya.
Ketidakpastian ini memicu rasa penasaran (anticipation) yang membuat penonton ingin mengetahui kejadian selanjutnya. Sensasi tersebut menyenangkan dan tidak menimbulkan stres, berbeda dengan ketegangan pada konten thriller.
Kombinasi Faktor Pembentuk Ketertarikan
Rasa gemas, respons dopamin, durasi konten yang singkat, serta perilaku kucing yang tidak terduga menciptakan kombinasi yang menjadikan konten kucing sangat adiktif.
Dengan demikian, kecenderungan untuk terus menonton bukan hanya dipicu oleh kelucuan semata, tetapi juga oleh mekanisme ilmiah yang terjadi di otak manusia.
Fenomena ini dapat disebut sebagai pertemuan antara sains dan hiburan, menghasilkan bentuk “kecanduan” yang relatif aman dan menyenangkan.
Penulis: Rafli Abdullah Santosa


