Mangrove Fest Creative Market 2026, Langsa Siap Jadi Kota Kreatif Baru
HOLOPIS.COM, LANGSA – Kota Langsa, yang terletak di pesisir timur Aceh, bersiap untuk menjadi sorotan nasional dengan inisiatif besarnya yaitu Mangrove Fest Creative Market 2026 yang akan mengusung tema "Karya Lokal, Alam Lestari".
Mangrove Fest Creative Market 2026 merupakan sebuah filosofi yang menegaskan komitmen bahwa setiap karya kreatif yang dihasilkan harus berpihak pada kelestarian alam dan nilai budaya lokal Langsa.
Acara yang diinisiasi oleh Wali Kota Langsa, Jeffry Sentana Putra, ini mendapat sambutan hangat dari Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf)/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, yang melihat potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja dan memicu pertumbuhan ekonomi daerah melalui event kreatif yang unik.
Kota Langsa diberkahi dengan kawasan hutan mangrove terluas di pesisir pantai timur Aceh, membentang seluas 6.500 hektare. Potensi geografis ini tidak hanya berfungsi sebagai penjaga ekologi, tetapi juga sebagai pilar inspirasi ekonomi kreatif.
Menurut Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antar Lembaga Kementerian Ekraf, Rian Syaf, Langsa memiliki modal kuat untuk menjadi Kota Kreatif.
"Langsa secara geografis sangat potensial di pesisir dengan potensi perdagangan, logistik, dan transit perhubungan. 60 persen potensi demografisnya juga usia produktif," jelas Rian.
Rian menambahkan bahwa potensi ekonomi kreatif Langsa tidak hanya terbatas pada subsektor kuliner, tetapi perlu dilakukan pemetaan ulang untuk menonjolkan subsektor unggulan lainnya, didukung oleh talenta muda yang teredukasi dan kekayaan akar budaya lokal.
Wali Kota Langsa, Jeffry Sentana Putra, menjelaskan bahwa Mangrove Fest Creative Market 2026 akan menjadi pengembangan wilayah geografis Langsa, menjadikannya destinasi pariwisata sekaligus pusat ekonomi kreatif.
"Tahun depan, kami akan membuat Mangrove Fest Creative Market yang nantinya ada pagelaran seni budaya, wastra, dan kuliner," ujar Jeffry.
Fokus utama acara ini adalah pengembangan wastra atau tekstil khas Langsa yang sedang ditransisikan ke budaya Aceh, bertujuan menjadikannya pionir untuk seluruh provinsi.
Langkah ini diperkuat dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Langsa yang tinggi, menempati peringkat kedua se-Aceh, menunjukkan SDM yang siap mendukung inovasi ini.
Melalui Mangrove Fest, Langsa tidak hanya menawarkan keindahan ekowisata mangrove yang lestari, tetapi juga sebuah pengalaman budaya dan kreatif yang berkelanjutan, menjunjung tinggi integritas kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha kreatif.
Acara ini diharapkan menjadi katalisator bagi Langsa untuk melompat menjadi destinasi unggulan di peta wisata dan ekonomi kreatif Indonesia.