Sepanjang tahun 2008, tercatat Gunung Semeru mengalami beberapa kali erupsi dengan rentang waktu 15 Mei hingga 22 Mei 2008. Erupsi yang terjadi pada 22 Mei 2008 tercatat mengeluarkan empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur sejauh 2.500 meter.
Setelah enam tahun beristirahat, Gunung Semeru kembali mengalami erupsi secara beruntun pada tahun 2014 hingga 2017. Menurut Volcano Discovery, erupsi berkala dengan skala VEl 2-3 pada gunung ini terjadi hampir setiap bulan.
Selanjutnya, pada tahun 2021 terjadi letusan, yang menjadi tragedi terbesar dalam sejarah erupsi Semeru, dengan skala diperkirakan mencapai VEi 3-4. Pada tahun ini, terjadi delapan kali guguran awan panas dengan jarak luncur mencapai 4 km yang disebabkan oleh runtuhnya kubah lava akibat curah hujan ekstrem.
Erupsi ini terjadi secara berulang pada 4-5 Desember 2021 dengan menewaskan sebanyak 57-69 orang, melukai ratusan orang,hingga merusak pemukiman warga sepanjang lembah Besuk Kobokan.
Berselang setahun dari erupsi besar 2021, Semeru kembali meletus Desember 2022. Letusan kali ini disebabkan oleh runtuhnya kubah lava di tengah hujan monsun yang kemudian memicu aliran piroklastik sejauh 19 km dari kawah.
Pada Maret 2024, PVMBG melaporkan terjadinya erupsi disertai awan panas yang berlangsung sekitar 27 menit berdasarkan hasil rekaman seismik. Aktivitas Semeru kembali meningkat pada 25 Desember 2024. Dalam kurun waktu sekitar 10 jam, gunung ini meletus berkali-kali. Guguran awan panas tercatat melaju hingga 3 km ke arah Besuk Kobokan, sementara kolom abu membumbung mencapai 1.500 meter.
Kemudian yang terbaru, aktivitas vulkanik Semeru kembali menunjukkan peningkatan sepanjang 2025. Pada 9 Juli, awan panas guguran melaju sekitar 4 km ke sektor tenggara, menandakan tekanan magma yang terus bertambah.
Puncaknya terjadi pada 19 November 2025, ketika guguran awan panas meluncur hingga 13 kilometer menuju Besuk Kobokan dan Sungai Lengkong.

