Kasus varian virus polio (cVDPV2) terakhir terkonfirmasi pada 27 Juni 2024 di Papua Selatan.
Adapun dalam upaya penghentian penyebaran virus, pemerintah melaksanakan dua putaran imunisasi tambahan menggunakan vaksin novel OPV-2 (nOPV2) sejak akhir 2022 hingga triwulan ketiga 2024.
Cakupan imunisasi rutin pun meningkat signifikan, dengan pemberian dosis kedua vaksin polio inaktif (IPV) naik dari 63 persen pada 2023 menjadi 73 persen pada 2024.
Dalam upaya mempercepat cakupan imunisasi, Kemenkes juga menginisiasi penggunaan vaksin heksavalen, yakni kombinasi DPT-HB-Hib dan IPV dalam satu suntikan.
Vaksin tersebut memberikan perlindungan terhadap enam penyakit, termasuk polio, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, serta pneumonia dan meningitis akibat Haemophilus influenza tipe b.
Program ini sudah mulai bergulir pada Oktober 2025 di daerah DIY, NTB, Bali, dan enam provinsi Tanah Papua, dan akan diperluas secara nasional pada tahun depan, sebagai bagian dari upaya mitigasi.
Indonesia turut meningkatkan kemampuan deteksi dan investigasi kasus lumpuh layuh akut atau Acute Flaccid Paralysis (AFP). Peningkatan kualitas surveilans ini kemudian dinilai melalui Outbreak Response Assessment (OBRA) oleh tim independen global pada Juli 2023, Desember 2024, dan Juni 2025.
Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman menegaskan pentingnya solidaritas berbagai pihak untuk terus menjaga momentum ini, dengan melakukan berbagai upaya seperti imunisasi.
“Kita harus terus menjaga momentum agar setiap anak mendapatkan imunisasi yang mereka butuhkan untuk tumbuh sehat dan bebas dari polio serta penyakit lainnya yang dapat dicegah dengan imunisasi,” tandas Moniza.

