Sebelum Ibnu Rusyd muncul sebagai tokoh sentral, dunia filsafat Islam telah diramaikan oleh pemikiran besar seperti Ibnu Sina yang kemudian dikritik keras oleh Imam Al-Ghazali.
Setelah wafatnya Al-Ghazali, Ibnu Rusyd justru muncul sebagai penantang arus besar pemikiran anti-filsafat.
Mengutip Internet Encyclopedia of Philosophy, Ibnu Rusyd dikenal sebagai filsuf Muslim terakhir yang paling berpengaruh.
Ia melontarkan kritik terhadap berbagai aliran pemikiran dalam Islam, mulai dari Asy’ariyah, Mu’tazilah, Tasawuf, hingga kelompok-kelompok literal.
Baginya, akal dan wahyu tidak pernah bertentangan, justru keduanya saling melengkapi.
Karya terkenalnya, Tahafut at-Tahafut (Kerancuan dalam Kerancuan), merupakan kritik balik terhadap Imam Al-Ghazali.
Dalam buku itu, ia membela filsafat dan menunjukkan bahwa pemikiran rasional tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Warisan Karya yang Menembus Batas Peradaban
Ibnu Rusyd meninggalkan karya yang sangat luas, yakni ilmu filsafat, logika, ilmu kedokteran, hingga keagamaan. Sebagian besar karyanya bertahan dalam bahasa Arab.
Namun banyak juga yang kini tersedia hanya dalam terjemahan Ibrani dan Latin, karena naskah Arabnya yang hilang.
Sumbangannya yang paling monumental adalah komentar-komentarnya terhadap Aristoteles. Komentar tersebut ditulis dalam tiga bentuk, yakni jawāmiʿ (ringkasan), talkhīṣ (parafrase), dan sharḥ/tafsīr (komentar panjang).

