HOLOPIS.COM, JAKARTA — Kartu tarot selama ini identik dengan simbol-simbol misterius yang diyakini mampu memberikan gambaran tentang perjalanan hidup seseorang. Bagi sebagian orang, tarot dianggap sekadar permainan.
Namun bagi yang lain, kartu ini menjadi sarana untuk mencari arah, memperoleh jawaban, hingga mendapatkan ketenangan batin.
Tarot kerap digunakan untuk membaca berbagai aspek kehidupan, mulai dari karier, percintaan, hingga masa depan. Di era digital, akses terhadap layanan tarot semakin mudah. Banyak anak muda memanfaatkan bacaan tarot online baik untuk refleksi diri, mencari hiburan, maupun sekadar penasaran.
Para pembaca tarot juga semakin aktif mempromosikan layanan mereka melalui media sosial, terutama TikTok dan Instagram, sehingga menjadikannya lebih dekat dengan audiens muda.
Meski kini identik dengan dunia digital, tarot sejatinya memiliki sejarah panjang. Mengutip Jurnal Ilmu Pendidikan Universitas Bunda Mulia, kartu tarot telah ada sejak tahun 1377. Pertama kali diperkenalkan oleh seorang pendeta Swiss, tarot kemudian dipopulerkan pada 1572 oleh Girilamo Gargagli sebagai media ramalan sekaligus alat membaca kepribadian manusia.
Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa tarot bukan tren sesaat. Praktik ini justru terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Saat ini, tarot kembali digemari terutama oleh Gen Z, yang menjadikannya bagian dari gaya hidup digital.
Bagi sebagian orang, tarot online berfungsi sebagai sarana self-healing, membantu mereka memahami diri sendiri, merenungkan pilihan hidup, atau sekadar mencari motivasi.
Namun, popularitas tarot juga memunculkan perdebatan. Sebagian kalangan menilai praktik ini bertentangan dengan nilai agama dan etika, sehingga menimbulkan pro dan kontra yang terus berlangsung.
Menariknya, tarot juga merambah dunia seni. Band lokal .Feast, misalnya, pernah merilis lagu berjudul “Tarot” yang menggambarkan dinamika emosional, luka, dan upaya bertahan dalam hubungan yang penuh gejolak. Lagu tersebut memakai tarot sebagai simbol perjalanan nasib, memperlihatkan bahwa kartu ini tak hanya menjadi alat ramalan tetapi juga inspirasi kreativitas.
Pada akhirnya, kepercayaan terhadap tarot kembali pada masing-masing individu. Ada yang memandangnya sebagai hiburan, ada pula yang menjadikannya media refleksi diri. Apa pun itu, keberadaan tarot di era Gen Z membuktikan bahwa praktik lama tetap dapat menemukan ruang baru dalam dunia digital yang terus berubah.


