HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa tindakan kekerasan hingga perundungan online harus dibasmi. Hal itu disampaikan seiring dengan Hari Toleransi Internasional yang dirayakan, tepat pada hari ini, Minggu (16/11).
Bertepatan dengan itu juga, Infantino menegaskan bahwa FIFA sedang menjalankan “operasi digital terbesar” untuk melawan ujaran kebencian, rasisme, hingga perisakan yang menyerang pemain, pelatih, dan ofisial.
“Sepak bola harus menjadi ruang yang aman dan inklusif, di lapangan, di tribun, dan juga di dunia daring,” ungkap Infantino seperti dikutip Holopis.com.
Ia menegaskan, segala bentuk perilaku kasar, diskriminatif, dan rasis tidak akan ditoleransi, seraya menekankan sepak bola bukan sekadar hiburan, tetapi ruang sosial yang harus dijaga bersama.
Gerakan global ini dijalankan melalui Layanan Perlindungan Media Sosial (Social Media Protection Service), teknologi pemantau tingkat lanjut yang menyisir konten bernada kekerasan di berbagai platform.
Sistem ini bukan sekadar memantau, ia mendeteksi, menandai, dan meneruskan pelaku ke penegak hukum. Bahkan, FIFA kini memasukkan para pelaku dalam daftar hitam pembelian tiket turnamen internasional.
“Kami akan bekerja sama dengan asosiasi anggota, konfederasi, hingga aparat penegak hukum untuk memastikan setiap pelaku bertanggung jawab,” tegas Infantino.
Layanan ini pertama kali diuji di Piala Dunia Qatar 2022 dan akan diperluas besar-besaran menuju Piala Dunia 2026.
Berikut dampak nyata operasi cyber FIFA sepanjang 2025 :
-
- 30.000+ unggahan kasar dilaporkan hanya dalam setahun


