Burung Kuau, Penari Cantik Sungai Lesan Kini Muncul Kembali

15 Shares

HOLOPIS.COM, BERAU – Ditengah rimba Sungai Lesan yang berada di Kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur secercah cahaya dari kepunahan tertangkap kamera jebak yang dipasang oleh Conservation Action Network (CAN).

Burung Kuau Raja yang saat ini terancam punah terlihat muncul dan melakukan tariannya untuk menarik betina selama musim kawin tiba. CAN menyebut Kuau Raja sebagai burung penari di lantai hutan. Burung ini hidupnya sangat bersih. Sebelum menari dan perkawinan burung ini selalu membersihkan arena.

- Advertisement -

“Di Hutan Lindung Sungai Lesan kita menemukan banyak sekali satwa, dan yang paling menarik adalah burung kuau. Sebab sudah cukup jarang ditemukan di Kalimantan. Dalam kamera jebak yang kami pasang, ada banyak sekali yang tertangkap kamera,” ujar Principal CAN Paulinus Kristanto.

Kuau, mengibarkan ekornya seperti burung merak untuk menarik betina. Selain itu juga untuk menandai wilayahnya. Temuan ini cukup penting, karena salah satu indikator sebuah kawasan itu benar-benar aman.

- Advertisement -

“Sebagai perbandingan, satwa orang utan tetap aman di area yang berkonflik. Sementara kuau harus hidup betul-betul aman jauh dari orang atau aktivitas manusia, tidak terbiasa aktivitas berisik, ” tambahnya lagi.

Bahkan kawasan bengalon dan di beberapa hutan lindung yang terfragmentasi juga sudah tidak pernah muncul lagi. Burung kuau selalu menjauh dari aktivitas manusia. Ini mengindikasikan kondisi ekosistem di Hutan Lindung Sungai Lesan sangat bagus.

Burung Kuau sendiri adalah inspirasi suku Dayak Kalimantan dalam tarian yang melambangkan keindahan dan harmoni. Banyak hiasan dari bulu burung Kuau dipakai oleh para pembesar suku Dayak. Bulu burung Kuau juga digunakan saat menikah, ada pula yang ditaruh di tameng.

“Bisa dibilang begini, masyarakat percaya burung Kuau itu selain keindahan, burung Kuau punya kekuatan magis. Mampu melindungi, itu kepercayaannya. Ketika di beberapa tempat menangkap burung Kuau tidak dibenarkan oleh tetua adat,” ceritanya kepada media ini.

Ia menerangkan secara adat burung Kuau terlindungi. Hilangnya burung ini karena ekosistem berubah. Hilangnya tutupan hutan itu paling berpengaruh. Sekarang hampir setiap kampung sudah tidak ada dan susah sekali mendengar suara burung Kuau lagi.

“Perlu diingat, mereka (masyarakat adat) mengambil bulu burung Kuau tidak dengan berburu, melainkan ditemukan. Kebanyakan warga mendapatkan bulu ketika masuk ke hutan. Sebab ketika burung kuau menari di area yang telah dibersihkan, mulai dari membersihkan hingga menari, bulu pasti ada yang jatuh,” jelasnya lagi.

Tim patroli banyak menemukan bulu burung Kuau di titik-titik tertentu. Bulu yang jatuh sejatinya adalah bulu terbaik, bulu yang panjang dan punya keindahan. Sehingga bagi masyarakat adat dayak, meski bulu burung Kuau punya keindahan dan daya magis, tetap bulu diambil tidak dengan memburu burung Kuau, melainkan menjelajahi hutan untuk menemukan bulu jatuh.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
15 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru