Adapun Prof. Talip Küçükçan dari Turki menilai dunia kini menghadapi lebih dari 110 titik konflik. Ia menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif antarperadaban dan reformasi sistem internasional yang lebih inklusif.
“Perdamaian tidak akan terwujud melalui perpecahan, tetapi melalui kerja sama antarperadaban,” terangnya.
Dari sisi militer, Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim menekankan pentingnya transformasi peran militer dari pertahanan menuju diplomasi.
“Kemenangan tertinggi bukanlah mengalahkan musuh, melainkan mencegah konflik itu sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Tufan Kutay Boran memaparkan konsep smart balancing yang menempatkan Indonesia sebagai kekuatan menengah ( middle power ) di kawasan Global South. Ia menilai strategi diplomasi Indonesia berhasil menjaga otonomi strategis di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok.
Sedangkan Prof. Makmor bin Tumin mengulas pentingnya keseimbangan antara kosmopolitanisme dan nasionalisme dalam menjaga harmoni global. Ia menyebut patriotisme beretika sebagai kunci untuk menggabungkan nilai kemanusiaan universal dengan loyalitas kebangsaan.
Melalui ICGI 2025, UNAS menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang berorientasi global. Konferensi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret serta memperkuat kolaborasi internasional dalam upaya membangun perdamaian dunia.

